Tingkatan manusia dalam Marah   Leave a comment

marah itu sebenarnya adalah nyala api yang bersumber dari api Allah yang menyala berkobar-kobar serta menjulan tinggi ke hati yang paling dalam. ia semacam bara api yang berada dalam lubuk jantung bagai bersekam suatu bara api di bawah abu. adakalanya manusia dikuasai oleh tipu daya syaitan yang dilaknat sampai tertarik urat sarafnya. jikalau seseorang dikuasai api kemarahan maka sesungguhnya ia dikuasai oleh nafsunya syaitan, perhatikanlah bahwa syaitan berkata dalam alquran disebutkan “Engkau ya Allah menjadikan saya dari api dan menjadikan adam dari tanah (al Araf:12). Betapa congkaknya syaitan berkata demikian sehingga Allah melaknatnya hingga yaumil akhir.

celanya marah Allah sitir dalam Alquran surah al fath ayat 26 “perhatikanlah ketika timbul dalam hati orang-orang yang tiada beriman itu perasaan kebencian/kesombongan masa jahiliah. kemudian Allah menurunklan ketenanganNya kepada RasulNya kepada orang-orang beriman”
ketahuilah bahwa kekuatan atau tenaga dari kemarahan itu terletak dari lubuk hati, jelaslah ia mendidihnya darah hingga ke ubun-ubun sehingga nampaklah bekasnya pada raut muka dan warna kulit kemerahan…layaknya kaca yang mencerminkan apa yang ada didepannya, begitupun marah karena darah mengalir deras dan tinggi dicerminkan dalam raut muka,

ada beberapa tingkatan manusia dalam marah seperti disitir dari kitab mau’izotul mukminin yang merupakan ringkasan dari ihya ulumudin, disebutkan bahwa kemampuan manusia dalam menghadapi marah ada tiga tingkatan:

  1. tafrith (acuh tak acuh atau hilang kemarahannya)
  2. ifrath (berlebih lebihan kemarahannya)
  3. i’tidal (mampu mengendalikan kemarahannya)

yang terbaik adalah yang terakhir yaitu pertengahan antara keduanya. dilakukan sebagaimana mestinya dan sesuai dengan aturan agama, karena sesungguhnya manusia tida kada yang tidak memiliki rasa marah, akan tetapi adalah bagaimana mengendalikan marah itu menurut koridor agama yang baik.
adapun tafrith dapatlah dikatakan kehilangan kekuatan kemarahan atau sifat kemarahannya amat lemah sekali. ini adalah tercela sekali. orang yang memiliki sifat tersebut boleh disebut sebagai orang yang tidak ada sifat pembelaan (hamiyyah) sama sekali. ia tidak ingin mempertahankan kehormatannya, istrinya, keluarganya serta apa saja yang berhubungan dengan kepentingan agama.
padahal Allah sendiri telah memberikan sifat utama kepada para sahabat Rasulullah yang berupa kekerasan dan hamiyyah itu seperti dalam firman Allah ” mereka itu bersikap keras sekali kepada kaum kafir” (fath:29) dan
“perangilah orang-orang kafir dan munafik itu dan bersikap keraslah kepada mereka “(tahrim:9).
selanjutnya kebalikan dari tafrith ialah ifrath atau berlebih lebihan tanpa mengenal batas. ia diarrtikan sebagai senantiasa memenangkan kemarahannya sehingga keluar dari kecerdasan dan siasat akal. akibatnya tidak adanya pikiran jernih dan kelapangan hati pada jenis marah ini. dan tenggelam di dalam kemarahannya, maudzubillah mindzalik!!
maukah kita menjadi manusia yang bisa mengatur amarahnya ataukah marah yang mengatur dan menguasai diri kita hingga kita tenggelam dan terbakar karenanya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: