warisan akhlak berbasis islam dalam makan berhidang dalam kesultanan Palembang Darussalam   Leave a comment

Kehidupan manusia dalam suatu kelompok tidak akan lepas dari adanya berbagai norma dan nilai yang sangat berharga yang mengatur setiap segmen kehidupan dalam setia lapisan masyarakat. dalam setiap masyarakat ataupun komunitas budaya mempunyai beragam cara pandang nilai etis yang dianutnya, yang tidak bisa diterapkan dalam komunits budaya yang memiliki akar kebudayaan yang berbeda. Layaknya sebuah Negara timur, Indonesia memiliki keberagaman nilai dan budaya serta norma yang mengatur dalam budayua itu sendiri. Antara dunia barat dan timur terdapat begitu jauh perbedaan yang mencolok dalam sudut nilai berpakaian yang dianut., nilai berbusana dalam cara pandang timur adalah kesopanan yang dilihat dari tertutupinya seluruh bentuk dari badan seorang wanita tanpa mengesampingkan elemen keindahan dari pakaian tersebut, sama halnya dengan dunia barat juga mengedepankan elemen keindahan dalam berbusana. Namun, yang menjadi daya pembeda adalah cara berpakaian yang mengedepankan lekukan tubuh yang menurut dunia timur adalah diluar nilai dan norma etis ketimuran. Hal ini sesuai dengan peribahasa yang kita pakai yaitu lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya.
Nilai dalam suatu berbudaya memiliki arti penting dalam pergaulan di suatu komunitas, seperti di jawa seorang anak harus berjalan membungkuk dengan menundukkan wajahnya jika hendak melintas dihadapan orang tuanya, nilai hormat seperti ini dianut oleh setiap orang dalam komunitas tersebut yang dianggap baik dan sanksi yang tepat terhadap pelanggarannya adalah cemoohan dan nilai kurang ajar yang didapat oleh seorang pelanggar yang berakibat mengimbas pada orang tua yang bersangkutan. Dewasa ini nilai ynag dinggap baik oleh setiap daerah di Indonesia sudah terhitung luntur dan dianggap aneh dan berlebih dan tidak up to date terhadap modernitas. Namun yang perlu penulis tekankan di sini adalah keberadaan nilai etika pergaulan dalam dunia timur secara umum masih tetap ditekankan dan perlu tetap dilestarikan dalam kehidupan sehari-hari agar menjadi seorang yang beretika. Secara teoritikanya masyarakat akan tetap hidup dalam budaya dan kebudayaannya yang akan mempengaruhi individu serta tingkah lakunya, yang pada akhirnya akan membentuk suatu kepribadian dalam diri individu tersebut.
Masyarakat yang mengamalkan nilai budaya dan kebudayaannya akan jauh lebih tinggi martabat sosialnya disbanding mereka yang tidak atau menganggap kuno aturan pergaulan individu dalam suatu komunitas. Layaknya nilai makan yang dianut suatu komunitas budaya adalah penentu dari buruk atau tidaknya individu dan tingkah lakunya dalam keseharian. Dalam sudut pandang nilai sanksi terhadap pelanggar nilai adalah cemooh dan dipermalukan.
Dewasa ini, banyak kita lihat orang yang hidup dalam kemodernan yang mengaku hidup beradab dan menjunjung tinggi nilai beretika, namun kenyataannya mereka tetap juga berjalan dengan mengangkat muka dan membusungkan dada dengan orang yang lebih tua dari mereka. Dan menganggap individualitas adalah segalanya tanpa menghiraukan sekelingnya. Dalam media massa seringkali kita mendengar seorang yang meninggal dunia tapa diketahui oleh tetangga sebelah rumah, dan baru ketahuan setelah satu minggu membusuk. Hal inilah yang mengerikan dan dihindarkan oleh nenek moyang kita dahulu, dengan membentuk suatu nilai komunitas yang menekankan kesadaran dan nilai kebersamaan komunitas.
Berdasarkan fenomena tersebut, penulis mencoba menuangkan sedikit warisan tutur kepada pembaca yang berupa nilai keseharian dalam pergaulan masyarakat khususnya pada komunitas daerah masyarakat palembang. Dengan memberi judul “etika dan nilai pergaulan dalam komunitas budaya masyarakat Palembang”.

A. Adab makan berhidang
Dalam dunia melayu tidak ada yang tidak mengenal istilah makan berhidang, dalam makan berhidang ini nenek moyang kita membentuk suatu nilai kebersamaan dengan saling tenggang rasa antar sesama. Atas tujuan luhur inilah maka timbul suatu nilai dalam budaya yang mengharuskan individu budaya tersebut menjaga sikapanya tatkala makan berhidang, yakni mengesampimkan ketamakan, egoisme individu dan mengutamakan kesopanan dan nilai kesederhanaan pada diri individu budaya tersebut.
Makan hidangan dalam budaya palembang dapat dilakukan dengan maksimal 8 (delapan) orang, atau sedikitnya untuk 6 (enam) orang. Secara maknawiah telah dipaparkan diatsa bahwa penciptaan terhadap keakraban dan kebersamaan nilai silaturahmi diantara sesama. Adab yang berkaitan dengan makan hiding dalam budaya palembang ini adalah tidak pantasnya bagi seorang untuk mengambil apa yang ada diseberang piring hidangannya (dengan menjulurkan tangan terlalu jauh/ panjang), sehingga menekan tangan kiri untuk mengambil makanan tersebut atau dalam bahasa palembang mencangka makanan di depannya. Hal ini dikarenakan secara tekhnis hidangan di palembang disajikan secara bersilang dengan posisi teratur menurut jumlah 8 (delapan) orang. Jadi, bila seseorang mengambil terlalu jauh berarti hak si teman tersebut terambil, begitu pun dengan jumlah lauk yang diambil, karena sesuai dengan jumlah 8 maka secara adab yang baik yaitu hanya layak untuk diambil satu lauk (ikan) saja menurut haknya, walaupun tidak ada yang mengambilnya. Apabila hal tersebut dilanggar berarti kita sudah mengambil jatah/ hak orang lain, sehingga sanksi yang di dapat dalam komunitas adalah cemooh yang berimbas kepada keluarga dan orang tua pelanggar tersebut. Kalau pun terpaksa sekali untuk mengambil lauk tersebut, maka kita harus meminta ijin pada teman yang lain. Tetapi disarankan untuk tetap menahan diri.
Hal tersebut dibuat oleh datuk-datuk pada masa kesultanan Palembang sangat didasarkan atas hadits nabi Muhammad SAW yang berbunyi:
Cara meminta lauk yang jauh dihadapan
Adakalanya pada saat kita makan bersama kita lebih tertarik dengan makanan/ lauk di hadapan teman kita dalam hal makan hidang ini ada cara yang diajarkan oleh sesepuh datuk-datuk Palembang dahulu dalam memperhalus budi. Secara adabnya dalam adat palembang, jikalau kita hendak dengan lauk yang ada diseberang hidang kita maka ada satu cara yang sangat halus dalam budaya ini yaitu dengan mengangkat piring lauk di depan kita dan menawarkannya kepada teman di hadapan kita. Hal ini hanya sebagai pemancing, padahal si teman tersebut tidak memintanya. Namun, yang perlu diperhatikan kembali adalah orang yang dikasih ujuk makanan tersebut harus menangkap maksudnya si pemberi bahwa ia berarti mengincar salah satu lauk di hadapannya, maka secara aturannya seseorang yang ditawari tersebut hendaklah mengangkat lauk dimaksud.
Sebagai contoh penulis coba jelaskan misalkan si A ingin meminta pergedel padahal makanan tersebut ada diseberangnya/ dihadapan temannya misalkan si B. maka, yang dilakukan oleh si A adalah agar si B mengetahui maksudnya dengan mengangkat atau menawarkan  opor telur kepada si B walaupun ia tidak memintanya. Terlepas dari menerima atau menolaknya si B, maka adab atau nilai yang di atur dalam masyarakat budaya Palembang adalah si B hendaknya mengangkat lauk pergedel tersebut dan menawarkannya kepada si A.
Satu hal yang harus diperhatikan adalah jangan atau tidak boleh mengambil saja apa yang ditawarkan tersebut tanpa menangkap arti atau tujuan si pemberi yakni dengan membalas apa yang diinginkannya. Jikalau hal ini dilakukan adalah sanksi yang   didapat berupa cemooh bahwa kita tidak pernah diajarkan oleh orang tuanya adab sopan santun dalam makan berhidang.
Adab memulai makan dalam berhidang
Dalam hal makan berhidang dalam dunia melayu secara umum dan masyarakat Palembang khususnya, adakalanya terdiri dari pemuda (golongan muda) dan sesepuh (golongan tua), yang tidak menutup kemungkinan bergabung dalam satu hidangan. Yang selalu kita tahu adalah apabila kita duduk satu meja ataupun satu hidangan dengan orang yang lebih tua, hal ini malah membuat para pemuda sungkan atau malu. Entah karena takut atau tidak mengerti harus berbuat apa seandainya golongan tua berlaku sesuatu nilai dan kita (pemuda) tidak mengerti/mengetahui maksudnya, sehingga berakibat pada kesalahan nilai yang dilakukan (membuat malu).
Tidak menjadi masalah dalam adat Palembang kemungkinan duduk dalam satu hidangan tersebut terdiri dari para pemuda dan orang yang lebih tua. Namun yang perlu diperhatikan oleh para pemudanya adalah menjunjung nilai dan adab di dalamnya. Dalam hal ini sebelum memulai makan,  yang diharuskan bagi pemuda adalah mendahulukan atau mempersilahkan yang tua terlebih dahulu. Untuk kemudian orang yang lebih tua pun akan mengucapkan diatori (dipersilahkan) yang bermakna bahwa kita juga harus memulai. Yang menjadi tolok ukur utama dalam adab masyarakat Palembang adalah nilai kesopanan untuk mempersilahkan yang lebih tua tersebut yang kita ajukan dan bukan persoalan makannya. Hal ini seharusnya juga berlaku antar pemuda jika duduk dalam satu hidangan dengan mengajukan basa- basi terlebih dahulu dengan mengucapkan diatori (dipersilahkan). Namun, yang paling penting dari kesemua adab dalam makan hidangan ini adalah apabila dalam suatu acara tuan rumah sudah mengucapkan majeng diatori ngelingkop (ayo silahkan merapat), atau majeng diatori (ayo dipersilahkan). Dan jangan sekali-kali makan mendahului sebelum adanya ucapan tuan rumah ini. Dan ini berakibat fatal bagi kita yaitu mendapatkan sanksi cemooh yang membuat malu berkepanjangan bagi kita yang berimbas pada orang tuanya yang tidak mengajari adab sopan santun.
Dalam hal memulai makan hidang ini, satu hal yang sangat perlu diperhatikan kembali adalah jangan mengambil nasi dengan terlalu tergesa-gesa (dalam bahasa Palembang: tergopoh-gopoh) karena dapat menghasilkan kesan buruk bagi orang yang melihatnya bahwa kita seperti orang yang tidak pernah makan/ kekurangan makan. Kalau hal ini tercipta maka akan pula berimbas pada kepribadian. Dalam adat budaya palembang masyarakat budaya bisa juga menjadikan momen kesempatan makan ini sebagai suatu metode untuk mencari mantu bagi anaknya. Jika dilihatnya seorang itu bagus cara makannya, dengan kata lain mengerti adab dan aturan sopan santun maka akan terkesanlah ia dengan mengucapkan dalam hatinya bahwa orang ini bagus untuk dijadikan mantu. Namun, jika impression (kesan) yang didapat buruk maka orang yang melihat pun akan berkata dalam hatinya bahwa orang tersebut tidak cocok atau layak untuk dijadikan menantu. Nilai layak atau tidaknya seseorang tersebut akan dinilai oleh para orang yang lebih tua tersebut yang terlebih lagi akan berimbas pada nama orang tuanya. Seperti pada ungkapan berikut “anak sapo ini? Pecak dak kalo makan be..! (anak siapa ini? Seperti tidak pernah makan saja!), atau ungkapan lain yang bermakna cemooh atau sanksi atas perbuatan kita melanggar nilai budaya.
Setelah mengambil makanan baik nasi/ lauk pauknya, ambillah barang secukupnya dengan tanpa santai tanpa memperlihatkan kesan tergesa-gesa, rakus, dan ingin cepat menambah. Seperti telah diuraikan diatas bahwa jangan mengambil lauk lebih dari satu (untuk tiap jenis lauk) yang berarti terambilnya hak orang lain. Sehingga orang akan mengecam kita akibat kelakuan kita tersebut, walaupun tidak secara langsung.
Kemudian kunyahlah dengan perlahan dan posisi badn jangan terlalu menunduk sehingga terlihat seperti badan yang menyentuh kaki. Selain itu, jangan sekali-kali mengangkat piring makan kita (baik menggunakan sendok atau tangan) dan diletakkan di atas telapak tangan layaknya menadah. Jangan pula mulut mengejar tangan/ sendok yang berisi nasi akan tetapi yang dilakukan adalah sebaliknya yaitu sendok/ tanganlah yang menuju mulut.
Dewasa ini, hanya sebagian kecil dan terhitung tidak banyak dalam kalangan pemuda sekarang yang dapat mempraktekkan cara makan demikian seperti yang diatur dalam nilai budaya adab Palembang Bari yang sedikit banyak masih dipegang oleh kaum tetua Palembang saat ini. Entah karena apa fenomena ini bisa terjadi apakah para tetua yang tidak membekali karena mereka sendiri tidak mengetahuinya, apa karena anak-anak mereka tidak mau mendengarkan celoteh lama yang sudah usang?. Hal ini hanya kita secara per inidividu yang bisa menjawab dan memperbaikinya.
Adab selesai makan
Masih dalam adab nilai kesopanan makan hidang dalam budaya Palembang. Dalam dunia melayu umumnya sama menjunjung tinggi nilai baik sebelum memulai maupun selesainya suatu acara/ perhelatan. Tak jauh beda dengan nilai adab budaya Palembang setelah selesainya seseorang dalam makan hidang ada beberapaaturan nilai yang perlu diperhatikan oleh individu budaya itu sendiri.
Dalam ketentuan nilai adab masyarakat budaya palembang, setelah selesainya seseorang dari makan hidang baik selesai sebagian atau hanya ia sendiri yang telah menyelesaikan makannya, maka satu hal yang harus diperhatikan adalah janganlah insan budaya ini mencuci tangannya sebelum yang lain selesai. Walaupun kita telah selesai/ habis makannya. Akan tetapi yang harus kita lakukan adalah menunggu teman yang masih makan tersebut dengan cara memakan buah atau pencuci mulut seperti nanas atau pisang yang umum pada hidangan pencuci mulut yang ada. Selain itu yang perlu diperhatikan lagi adalah hendaknya kita duduk dengan tenang sambil menunggu mereka selesai, terlebih lagi yang perlu diperhatikan adalah insan budaya tidak boleh berdiri meninggalkan hidangan tersebut sebelum yang lain selesai. Karena hal ini sangat tidak sopan yang akan berimbas pada kepribadian kita oleh orang lain yang dicap sebagai kurang ajar. Dengan kata lain walaupun masih tersisa satu orang yang belum selesai makan, maka sebagai insan budaya kita harus menunggunya. Karena kalau kita segera berdiri sedangkan masih ada barang satu atau dua orang yang masih makan, maka kasihan orang tersebut. Hal ini menyebabkan ia akan terbutu-buru untuk menghabiskannya. Dan yang paling parah kemungkinan terjadi adalah orang tersebut (masih makan) akan segera meninggalkan/ mengakhirkan makannya (cuci tangan) walaupun ia belum menyelesaikan makannya. Atau dalam istilah masyarakat palembang ‘be(r)keringat” untuk menghabiskannya. Inilah adab yang baik dan terpuji disamping orangyang kita tunggu itu akan menyatakan terima kasihnya dengan bersikap ramah kepada kita dikarenakan insan budaya mengerti adab dan telah menolongnya dari rasa malu dan cemoohan orang.
Di lain pihak hal yang harus diperhatikan oleh kita bersama yaitu mulailah dengan mengambil makan yang secukupnya agar kita juga bisa selesai sama seperti yang lain. Hal yng perlu diketahui lagi bagi insan budaya bahwa orang yang meninggalkan/ mengakhirkan makannya tersebut tidak mau kalau ia tinggal sendiri untuk makan makanannya tersebut, dikarenakan untuk menghindarkan kesan dirinya rakus. Dalam masyarakat palembang di kenal ucapan masih kurang cokop makanno! (masih kurang cukup makannya!).
wallahualam..
by:Rahmad salim (sumber lisan ibu Nyayu Siti Aminah bt kgs Said
My Writing in : “Al-Qudsul Al-Abha” (Kesucian yang sangat Indah) . rahmad salim.2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: