Lagi ta’aruf, Kenapa Bingung?   2 comments

Kok bingung…? Itulah satu kata yang terlontar dari mulut seorang ikhwan yang lagi berta’aruf dengan Salsa (tidak nama sebenarnya). Salsa seorang akhwat yang selama ini selalu menjaga pergaulan dan menutup diri untuk namanya pacaran, akhirnya terjebak juga dengan perasaan gundah, bingung, dan resah seperti yang dialami oleh kebanyakan orang-orang yang mau menikah. Keadaan ini dialami oleh Salsa setelah ada komitmen dengan si Akhi untuk melanjutkan pernikahan secepatnya, namun satu kata kunci dari seorang ibu yang melahirkan dan membesarkan si Akhi belum ada kata-kata setuju atau pun tidak. Saat Salsa meminta keputusan tegas dari si akhi, dia pun tidak bisa memberikan keputusan tegas karena hasil dari sholat istikharahnya ‘positif’, hanya tinggal menunggu keputusan Ibunya. Inilah yang membuat Salsa menjadi gundah karena serba tidak jelas, hatinya pun menjadi maju mundur.

Ungkapan rasa bingung ini pun keluar dari mulut Salsa saat ditelepon dengan si Akhi, persis ketika itu, orang tua Salsa sudah mulai mendesak untuk mendapatkan suatu kejelasan, ditambah lagi satu ikhwan lain bermaksud hendak berta’aruf juga dengannya. Kondisi ini semakin membuatnya resah, saat mengingat umurnya yang sudah cukup matang untuk menikah. Akhirnya keluhannya diterima oleh si Akhi sambil memberikan nasehat, “Hidup kita ini sudah diatur oleh Allah, bukankah selama ini kita sudah banyak menimba ilmu tentang keyakinan kepada Allah, bahwa taqdir Allah sudah ditetapkan bagi semua makhluknya?” Tinggal bagi kita sekarang untuk mengamalkan dan mempraktekkan ilmu yang telah kita timba di pengajian. Allah sentiasa menguji hamba-Nya dengan keresahan, kesusahan dan kekurangan. Maka orang yang selalu mengikuti petunjuk Allah, maka ia tidak akan pernah merasa khawatir dan tidak pula bersedih hati. Kenapa harus bingung?

Gedebuk!! Begitulah kira-kira irama jantung Salsa saat diingatkan dengan firman Allah di atas. Si Akhi pun melanjutkan nasehatnya, “Sekarang tinggal bagi kita memperkuat hubungan dengan Allah, mengisi waktu malam dengan sholat tahajud, memperbanyak tilawah Qur’an, banyak bersedekah, banyak berzikir, dan sabar serta ridho menerima kondisi ini. Sambil kita terus berusaha dan terus berdo’a agar Alloh membuka pintu hati Ibu, karena hati Ibu itu, juga berada dalam gemgaman Allah. Kalau Allah berkehendak kita berjodoh, pasti akan terlaksana juga apaun rintangannya.”

Dalam hati Salsa terus beristigfar atas kegundahan dan rasa was-was yang dihembuskan oleh syaitan ke dalam hatinya. Setelah itu Salsa pun mulai agak merasa tenang, walau sekali-kali muncul juga perasaan khawatir itu, akhirnya ia menyibukkan diri mencari berbagai literatur, untuk mendapatkan mengatasi keresahan hatinya. Dia pun menemukan buku yang ditulis Harun Yahya dengan judul “Melihat kebaikan dalam Segala Hal” (Seeing Good in All).

Dalam buku tersebut, kembali salsa menemukan kutipan dari firman Allah: “Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.” (Ali Imran:160) Usai membaca buku itu, Salsa pun merenung, ternyata rasa tawakal, sabar dan berhusnuzhon pada Allah, inilah yang harus selalu dipupuk di setiap helaan nafas, dan dalam setiap langkah kita. Setiap ujian dan rintangan yang menimpa kita, pasti ada kebaikan dan pelajaran yang bisa dipetik, sekalipun kondisi itu tidak kita sukai. Ini baru satu perjuangan untuk mewujudkan pernikahan, belum lagi perjuangan-perjuangan lain yang jauh lebih berat lagi.

Wahai saudara-saudariku… perjuangan untuk menikah itu, bukanlah suatu perjuangan yang mudah, oleh karena itu, bagi saudara-saudariku yang telah menikah jagalah keharmonisan keluarga anda, jangan biarkan biduk keluarga anda oleng dan karam di tengah lautan, karena hidup di dunia ini hanya sesaat, kelak di akherat sana kita dimintai pertanggungjawaban atas kewajiban dan tanggung jawab yang kita emban. Bagi para suami berlombalah melatih diri untuk menjadi pemimpin yang berakhlak mulia, seperti akhlaknya Rasulullah, menjadi ayah yang memberikan keteladanan pada anak-anaknya. Tidak otoriter sebagai soerang pemimpin. Ajaklah isteri anda untuk bermusyawarah dalam menyelesaikan persoalan rumah tangga. Bagi para isteri bersemangatlah untuk memicu diri agar bisa menjadi bidadari dunia dan akherat bagi suamimu, indah dipandang mata, sejuk di kalbu dan bermesra dirasa, yang pasti selalu dekat dengan Allah. Menjadi isteri dan ibu yang memberi rasa damai pada anggota keluarga Didiklah para anak-anak anda, menjadi anak-anak yang kelak akan mengguncang dunia ini dengan menegakkan panji-panji Islam.

Jangan biarkan anak anda sibuk dengan dunia khayal, sebagai dampak dari film-film yang ditontonnya. Bagi yang belum menikah bersabar dan berusahalah untuk meraih kasih sayang Allah, karena orang yang mendapat kasih sayang Allahlah yang akan beroleh kebaikan dunia dan akhirat. Semoga kita semua beroleh Surga yang dijanjikan Allah, dan diizinkan untuk hadir dalam pertemuan yang sangat gung yakni pertemuan di saat melihat wajah Allah, sebagai imbalan bagi hambanya yang sabar dalam meniti hidup ini. Amin ya Rabbal’alamin

Posted June 14, 2011 by a'im in Kisah dan sejarah

Tagged with , , , , , , , , , ,

2 responses to “Lagi ta’aruf, Kenapa Bingung?

Subscribe to comments with RSS.

  1. assalamualaikum ustadzah…

    sya seorang akhwat, baru sja sy melalukan taaruf,,,sblumnya teman sy henda mengenalkan temannya yg sedang mencari istri, tp sblum sy menyatakan ingin taaruf sya sudah mencari data mengenai si ihkwan. melalui fb dan twitter. sya mulai tertarik,,, (sy sangat susah suka dg lawan jenis ustadzah, krna sy pernah pacaran dli),,, bbrapa hri yg lalu sy dikabari ternyta setelah si ikhwan tidak mendapatkan gambaran sedikitpun tentang sya,,, sedangkan sy terlanjur sudah menanamkan rasa. sya tipe orang yg sangat susah untuk membuang prasaan, masih dan masih berharap,,, sya menolak bbrapa org yg dijodoh2 dg sya,,, sy susah suka dg orang baru ustadzah,,,bagaimana ustadzah sya melawan gundah yang hebat,,,

    • waalaikumsalam saudariku,
      mohon maav sebelumnya mungkin saya bukanlah orang yang tepat untuk dipintai pendapatnya. tetapi saya berterima kasih karena saudari telah bersedia mengungkapkannya dengan saya. afwan, saya bukan seorang ustadzah saya hanya seorang ikhwah..
      saya sangat memahami perasaan anda itu,, ketika kita mendapatkan seseorang yang begitu kita kagumi, kita lupa bahwa yang menghadirkan perasaan itu adalah Allah SWT. oleh karena itu, hendaklah kembalikan semuanya kepada Allah agar kenapa?? agar kita tidak terpendam dalam kekecewaan dan terpaut pada perasaan yg tak menentu..serahkanlah perasaan kita tatkala kita mendapatkan rasa manusiawi kita kepada Allah,, agar kita tak kecewa, karena semua itu Allah yg membolak balikkan hati

      saya pernah mengalami hal demikian, sampai saya mendapatkan sebuah pencerahan dari sebuah artikel, saya mendapatkan sesuatu kata yg membangkitkan saya

      Imam syafii berkata:
      “Setiap kali dirimu terhambat pada seseorang maka Allah akan menimpakan atasmu berupa pahitnya rasa tertambat. Agar irimu mengerti bahwa Allah cemburu pada seoonggok hati yang tertambat pada selain diri-Nya, karena itulah Dia memalingkanmu dari pahitnya rasa tertambat agar kamu kembali pada-Nya”

      Semoga sedikit pendapat imam syafii tsb dpat membangkitkan saudara dan mengembalikan hati dan rasa cinta kita kepada Allah, sang pemilik hati yang sebenarnya.. amin

      afwan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: