Ketika Tuhan Bertanya   Leave a comment

Satu persatu ayat dalam Ar Rahman mengalun dari pengeras suara di sudut-sudut tiang
Masjid Baiturrahman. Perlahan dalam syahdu. Mengiringi mentari menghabiskan
sepenggal perjalanannya menuju malam.

“Fabiayyi aalaaa i rabbikuma
tukadzdzibaan”

Kesibukan Pasar Aceh mulai bergeliat mempersiapkan waktu
berbuka puasa. Sepanjang kaki lima, gerobak-gerobak pecal dan penganan berbuka
tampak bersiap siap. Kue lemang yang terbuat dari beras ketan yang dimasak di
dalam bilah bambu, tampak berjejer di meja-meja dadakan di pinggir jalan dan
emperan toko. Ada juga putu, timpan balun, dan beberapa makanan tradisional Aceh
khas berbuka puasa lainnya. Beberapa lelaki tampak sejenak meninggalkan
pekerjaannya untuk segera menuju masjid guna menunaikan shalat ashar.

“Fabiayyi aalaaa i rabbikuma tukadzdzibaan”

Keramaian pun hampir
sama di pelataran Masjid Raya. Stand penjual buku di sisi timur masjid tampak
dipadati orang-orang yang berminat membeli atau pun sekadar membolak-balik
beberapa halaman buku yang menarik buatnya. Di teras masjid ada orang-orang yang
duduk-duduk sambil menunggu waktu ashar tiba.

“Fabiayyi aalaaa i
rabbikuma tukadzdzibaan” kembali mengalun dari pengeras suara di sudut-sudut
tiang masjid.

Setelah berwudhu, membasuh gurat kelelahan dari jengkal
kulit, saya melangkah ke dalam masjid yang berlantaikan marmer tanpa karpet.
Dingin serta merta merasuk dalam pori-pori telapak kaki yang penat. Dingin pula
yang terasa perlahan menelusup dalam simpul saraf yang menegang menantang
perjalanan hidup.

Perjalanan hidup. Perjalanan yang terasa panjang dan
melelahkan. Tak terasa 28 tahun terlewati. Kini saya di sini merasa belum
menjadi siapa-siapa. Perjalanan waktu terukir sejak saya dilahirkan di tanah
rencong ini. Tumbuh dan besar dalam asuhan alam Islam yang kental. Ritual dan
aturan hidup Islam menjadi hal yang biasa sehari-hari bahkan menjadi tradisi
yang melekat erat.

Langkah takdir membawa saya keluar dari tanah ini.
Keluar untuk mencari bekal ilmu dengan harapan besar untuk penghidupan yang
lebih baik secara materi. Kemudahan demi kemudahan membuaikan perjalanan saya.
Semua ini seakan adalah karena saya memang pantas untuk mendapatkannya, karena
saya adalah yang terbaik. Kenikmatan materi yang mudah digapai ternyata membuat
rasa tidak puas pada satu pencapaian, dan semakin menuntut pencapaian yang lebih
tinggi. Akhirnya hanya mampu berdalih bahwa manusia memang makhluk yang tidak
pernah terpuaskan.

Panggilan-Nya tidak lagi merengkuh hati untuk segera
menghadap, di kala pekerjaan kantor menuntut untuk segera tertuntaskan. Marahnya
bos di kantor terasa lebih menakutkan daripada marahnya Allah di hari pembalasan
kelak. Lembaran mushaf tersingkirkan oleh lembaran laporan kerja. Detik detik
malam pun berlalu dalam hening tanpa sujud yang menemaninya. Semuanya berjalan
begitu saja, dan hampa.

“Fabiayyi aalaaa i rabbikuma
tukadzdzibaan”

Seperti roda pedati, perjalanan hidup adakalanya di atas
ada kalanya ia terjungkir ke bawah bersama kerikil dan lumpur. Saya kehilangan
pekerjaan. Lantas apakah kita menyalahkan Tuhan akan kondisi kita yang sedang
ada di bawah? Mungkin awalnya iya bagi sebagian orang, seperti saya. Saya sempat
merasa Tuhan telah tidak adil. Mengapa kesulitan ini semakin menghimpit buat
saya. Saya mulai ber’matematika’ dengan nikmat Allah. Saya sudah melakukan
banyak kebaikan, tapi kenapa keburukan akhirnya menimpa saya juga. Pada saat
itu, saya terlupa bahwa begitu banyak nikmat Allah yang telah saya sia-siakan
sementara panggilan Allah kadang-kadang setengah hati saya tunaikan.

Ketika Tuhan bertanya, “Fabiayyi aalaaa i rabbikuma
tukadzdzibaan”

Nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? masih
sempatkah kita merenungi jawabannya?

Masih bersimpuh di lantai marmer
masjid tanpa karpet, saya merasakan ada nikmat. Nikmat yang mungkin sekian lama
terlupakan. Nikmat yang berbeda dengan nikmat pencapaian nafsu duniawi yang
fana, yang semakin dikejar malah terasa semakin jauh. Sementara Tuhan masih
menanti kita di sisi lain, berlari menuju kita pada saat kita melangkah mendekat
pada-Nya.

Adzan ashar bergema dari pengeras suara di sudut-sudut tiang
Masjid Baiturrahman. Saudaraku, bersyukurlah kita yang masih “ditanya” oleh
Allah.

keusuma@yahoo.com

Posted June 30, 2011 by a'im in Kisah dan sejarah

Tagged with , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: