Ingin kubahagiakan Ibuku,,,   8 comments

Pagi itu matahari begitu cerahnya menyinari langit depan rumahku, aku adalah seorang
anak yang mungkin kebanyakan teman sebayaku tidak merasakan beban kehidupan
yang begitu berat untuk seukuran remaja sma 16 tahun. Ayahku adalah seorang
petugas kebersihan pasar yang senantiasa mengangkut sampah tatkala semua
pedagang meninggalkan pasar. Dan ibuku adalah seorang tukang cuci di rumah
tetanggaku. Dengan dua orang saudaraku yang masih kecil, mereka seolah-olah
terseok mengais rezeki demi kebahagiaan kami.

Tepat pukul 07.00 di hari senin, aku pamit kepada ibu dan bapak yang sedang duduk di
kursi reot tepat dipinggir pintu belakang rumahku. Kulihat tubuh ibuku yang
begitu rentah, dengan keriput di tangan dan pipi yang sangat membuatku sedih, cukup
membuat mataku berkaca kulihat ayah mengulurkan tangannya kepadaku seraya  berkata “ kesini, nak!! Belajarlah yang benar
dan rajin agar bahagia kelak” ucapan ini setiap pagi ayahku ucapkan tatkala
kami hendak pergi sekolah. Kujadikan itu sebagai doa dan penguat jiwa dan
semangat hidupku.

Aku pun segera berangkat bersama adikku yang masih duduk di bangku SMP, ia bersekolah
di salah satu SMP swasta ternama di kotaku. Mungkin nasibnya lebih beruntung dibanding
diriku. Ia tidak harus mengetahui bahwa pahitnya dunia ini harus diperjuangkan
dengan keringat untuk bersekolah. Biarlah ia tetap tersenyum dan cukup aku yang
menanggung beban berat kedua orang tuaku.

Sang surya nampaknya tidak bersahabat, kilaunya sungguh sangat menyiksa. Walau itu panas pagi hari, tetap
berkeringat seragam SMA ku. Sambil berjalan menyusuri gang menuju sekolahku
yang tidak jauh dari rumah, tapi lumayanlah jika berjalan kaki. Tak lama
terdengar suara klason “ tin…tin…hey!!” (Dengan nada keras) “jalannya minggiran…dasar
anak sampah”. Serta merta perkataan itu menjadikanku terngiang. Aku berpikir
bahwa kenapa mereka begitu memandang hina pekerjaan orang tuaku. Kubalikkan mukaku
pada sebuah mobil vios disampingku, dan ternyata ia adalah pak Udin seorang
kaya di kampungku tempat ibuku mengambil upahan cuci. Hatiku merasa sakit
tatkala ia melotot dihadapanku, rasanya aku ingin mencolok kedua matanya yang
jobol itu, namun hatiku berkata “sudahlah.. toh itu memang matanya yang besar”.
Sedikit mereda amarahku namun sisi jahatku kembali berkata “ia telah menghinamu,
kenapa kau diam saja, itu menyakitkan kau dibilang anak sampah”. Aku terdiam
sejenak sambil kugenggam tangan kananku yang sebentar lagi melepaskan bogem
mantab. Seketika aku terbayang wajah ibuku yang sangat letih, dan sedikit
senyuman terpaksa dipipinya. Kubatalkan niatku untuk melabraknya. Demi cita-cita
mereka padaku. Kutinggalkan pak udin untuk terus berjalan.

Lima belas menit kemudian aku telah sampai di sekolahku, sebuah SMA Negeri ternama
di kotaku. Aku masuk dan ternyata belum terlambat. Dengan segera aku langsung
menempati bangkuku dan memasukkan tas lusuhku dalam laci. Tiba-tiba temanku
Andi menyapaku dengan ramah “yan, kamu kenapa? Kok gak semangat gitu? Gak biasanya?”
aku tiba-tiba terkejut dari lamunan “oh… iya, yan! Gak papa.. Cuma kesiangan
bangun aja.. jadi gini dah, rada bloon!!” senyuman terpaksa kusunggingkan di
pipi. Andi menepuk pundakku “pak..” dan berkata “ semangat” . aku hanya
tersenyum saja sambil  menganggukan
kepala.

Hari sudah pukul 12.00 dan sebentar lagi waktunya pulang. Kunanti dengan merapikan
semua berkas di mejaku, dan memeriksa semua peralatan agar tidak tertinggal di
laci sekolah, karena ada murid kelas siang yang bakal masuk disini.

“Kringgg….kring…” terdengar bunyi bel sekolah yang menandakan waktunya pulang. Dan ketua kelas
pun segera mengambil sikap untuk berdoa pulang. Ibu tuty pun keluar kelas tanpa
menoleh lagi smabil berkata “selamat siang anak-anak”.

Eits… tiba-tiba aku terhenti di koridor kelas, sesuatu aku ingat bawa aku harus
bekerja siang ini. Tanpa sepengetahuan kedua orang tuaku, aku bekerja sebagai bartender.
Mungkin namanya tak sebeken kerjaannya. Aku hanya seorang pelayan bar minuman. Melayani
pengunjung yang hendak minum. Sedikit guyonan dalam hatiku membuatku tersenyum
sendiri. “aneh.., kenapa tak seorang pun dari pengunjung ini yang memesan es Oya.” (sebuah es kenanganku masa SD
yaitu serupa dengan es limun). Ya namanya juga BAR mana ada minuman aneh kayak
gitu… yang ada Wine, Beer, tequila, apalah sejenis minuman yang memabukkan. What ever pikirku, toh aku hanya bekerja
mencari uang demi sekolahku dan adikku.

Jam di tempat kerjaku berdentang dan ternyata sudah cukup larut untuk bekerja, besok
aku harus sekolah. Aku pulang ke rumah, “tok..tok.tok…” kuketuk pintu rumahku
dengan pelan, aku tahu ibuku pasti telah tidur. Yah namanya juga seorang ibu,
masih dibukakan pintu rumah dengan ramah. “Dari mana kamu yan..?? baru pulang
gak kabarin ibu!, sering kamu kayak gini..” aku bingung harus bilang apa,
karena tak ada satu pun dari seisi rumah ini yang mengetahui bahwa aku bekerja
di sebuah BAR. Tapi kualihkan pembicaraan ibuku dengan bertanya “ gimana ayah
udah tidur bu??” tanpa menunggu jawaban ibu aku bergegas meninggalkan ibu,
takut ditanya lebih dalam. Kulihat ibu hanya menghela nafas panjang melihat
kelakuanku.  “Maafin aku bu” pikirku.

Sinar matahari telah mengintip di sela horden kamarku, sehingga membuatku terbangun
karena silaunya. Dan ternyata aku kesiangan. Bergegas aku bangun dari tempat
tidur untuk mandi. Secepat kilat kuselesaikan mandi, berpakaian, dan sepatuku
yang sedikit lusuh tak lupa senantiasa menemaniku dari SMP hingga SMA ini. Tersenyum
aku melihat sepatuku itu, mungkin sedikit rasa salut akan keawetan dan muka tak
bermalunya aku.

“ayah..,ibu…, aku pamit” kucari mereka di pintu belakang ternyata tidak ada, kemasuki
kamar mereka dan ternyata tidak ada. Kala itupun adikku Adi tidak berada di
rumah “kemana ibu, apa adikku telah berangkat duluan..?” pikirku. “ah.. mungkin
memang telah duluan berangkat si Adi”. Tiba-tiba kakiku menyenggol pecahan
celengan ayam milik si bungsu. “Kenapa ini bisa berantakan gini” pikirku. segera
kurapikan dan tak sengaja kulihat di atas meja ada sebuah kertas bertuliskan “yan..,
bapak di rumah sakit mengantar ibu, semalam ibu pingsan. Dan sekarang Adi
bersama bapak di Rumah Sakit Charitas”. Sontak mataku berkaca-kaca, tanpa pikir
panjang aku naik angkot menuju kesana, dengan seragam SMA yang masih kupakai. Kutemui
bagian informasi, “pasien bernama ibu Lily, dikamar berapa sus”. Sambil mencari
“yosep, 13” kata seorang suster berambut pirang. Aku segera mencari ruangan
dimaksud dan kutemui ayahku sedang duduk disamping ibuku yang tertidur di sana
dengan infusan di tangan kanannya dan tabung oksigen disampingnya. Kulihat banyak
sekali alat yang tak kukenal disampingnya, dan detector jantung yang naik turun
tak kumengerti sama sekali. Air mataku tiba-tiba menetes melihat drama
kehidupan yang sedang kuhadapi ini. Aku menyesal karena semalam telah membuat
kecewa, karena aku begitu saja meninggalkannya tanpa menjawab pertanyaannya
padaku. Helaan nafas ibu malam tadi adalah pertanda bahwa ia keletihan akan
kerjanya seharian, mungkin itu puncak dari beban hidup yang ia jalani.

Kuhampiri ayahku dan bertanya “kenapa ini bisa terjadi yah? Gimana ibu?” rentetan
pertanyaan kulemparkan kala itu, namun ayah tidak bisa menjawabnya, ia hanya
terdiam dan menatapku dengan hampa. Rasanya kulihat wajah ayah begitu letih
atas kejadian ini. Tak lain masalah administrasi pembayaran yang akan kami
hadapi nanti, dan kesehatan ibuku yang semakin down begini. Kupahami itu dari sorotan matanya yang layu.Tiba-tiba
ayah berkata “yan..,doakan ibu…” aku pun segera memeluk ayah. Dan ia pun menghapus
air matanya. Aku tak kuasa dan segera keluar mencari angin segar.

Aku berjalan ke arah belakang taman, berdiri sambil memandangi jalanan taman, kulihat
seorang ibu tua sedang berjalan sambil dipapa
dengan seorang muda mirip anaknya. Bergumam diriku seketika “alangkah bahagia
jika aku bisa membahagiakan ibuku tercinta hingga tua seperti ia”.

Pemandangan kontras di arah jam tiga kulihat segerombolan suster bergegas masuk ke kamar
pasien, “seperti ada sesuatu di sana” pikirku. itu kamar ibuku di rawat. Aku pun
bergegas masuk kembali meyakinkan tidak terjadi apa-apa dengan ibuku.

 

 

 

Apa yang kukhawatirkan ternyata benar, ternyata suster tadi bergegas menuju ibuku. Tubuhku
lemas, tak berdaya dan gemetar. Seketika kulihat ayahku meneteskan air matanya
kembali. Dan kudapati ibuku telah dipanggil Yang Kuasa. Kulihat wajah berkeriput
karena letihnya bekerja, kulihat gurat kesedihan di wajahnya yang penuh
perjuangan bagiku dan adikku. Tak sanggup kulihat wajahnya yang sangat mulia
bagiku, ia adalah semangatku. Seketika aku kehilangan semangat hidupku, tubuhku
semakin lemas tatkala kulihat adikku Adi menangis kencang, memanggil ibuku yang
sudah terbujur kaku. Tak sanggup kulihat wajah Adikku yang masih SD
menarik-narik penutup tubuh ibuku dan memanggil-manggilnya. Air mataku terus
mengalir ketika kulihat kembali gurat kesedihan ayah yang mengecup pipi ibuku
untuk terakhir kali. Aku terpaku “aku belum membahagiakanmu ibu, aku menyesal!!
Maafkan aku ibu, aku belum bisa membahagiakanmu ibu” pikirku. tiba-tiba
kepalaku pusing dan begitu banyak bintang kulihat, seketika pandanganku menjadi
gelap dan aku tersadar telah berada di atas tempat tidurku. Setelah sehari
pingsan. Kutanya pada ayahku yang sedang duduk di sebelah tempat tidurku di
rumah. “yah.., kemana ibu?” ayahku hanya diam dan mengelus rambutku, terdengar
suara keramaian tahlil di rumahku ternyata aku tidak menghadiri pemakaman
ibuku. .

Maafkan aku ibu, aku belum bisa membahagiakanmu!!

                       (Kupersembahkan ini kepada semua Anak Dunia ini)

8 responses to “Ingin kubahagiakan Ibuku,,,

Subscribe to comments with RSS.

  1. Dia tak mengenal cinta
    Namun sedalamnya makna telah tergores
    Wujud kesetiaan nan abadi
    Cermin luhur perilaku masa lalu
    Hatinya sedalam samudera
    Sebongkah misteri tiada terpecah
    Hanya bahagia tersirat
    Sedang duka entah ke mana
    Bagai berlian di bebutiran pasir pantai
    Bersinar meski terabaikan
    Sungguh tak akan padam
    Di hati para kaum tiran
    Keluguan wanita ayu
    Tak terbalut tirai palsu
    Gilasan roda-roda zaman
    Dia mampu bertahan
    Sebuah ketulusan terpancar
    Hanya ingin bersinar
    Bilakah gelap
    Hanya dia seorang
    Untaian kata-kata terindah
    Terhaturkan untuknya seorang
    Cinta kasih sepanjang zaman
    Tak terbalas intan berlian

  2. This is your true story or not?

  3. mv bro,, itu adalah sebuah ungkapan pikiranku yang berusaha kulontarkan melalui kata2,,,
    sebuah ketakutan yang kukhawatirkan, dan semoga itu tidak terjadi pada kita semua, pesanku pada semua anak dunia ini, penyesalan terdalam adalah “kebahagiaan kita tanpa kebahagiaan kedua orang tua adalah sia-sia”
    jangan sampai itu terjadi…. watch out!!

  4. Benar sekali bang, apalah arti hidup jikalau tak dapat membahagiakan orangtua. Akan tetapi makna dari kebahagiaan itu sendiri apa? Ada pula yg mengatakan kebahagiaan anak adalah kebahagian orang tua juga. Dan bagaimana pula caranya? Karena setiap insan mempunyai sudut pandang ygberbeda.

    • kalau boleh jujur,, gue sambil meneteskan air mata nulis cerita ntu bang……..
      gue inget semua yg gue lakukan baik sngaja ato kagak ke emak ama bapak gue…
      nyesel dah rasanya…
      i hope it will not be done anymore by me myself or all of us..

  5. Kalo kita selagi ingat. Tapi rasanya kebanyakan dari kita banyak gak ingatnya ya. Di akhir baru menyesal.
    cuma sekedar info saja, jenis kelamin saya perempuan. Belum berubah. Dan insyaallah akan selamanya seperti itu.😀

  6. hahahha,,, maav non, gak tau.. cuma inisial M doang soalnya..
    menurut gue kebahagiaan itu adalah segala sesuatu yang membuat kita bisa merasa qonaah dan bersyukur serta ikhlas atasnya..
    seperti ketika kita hanya punya uang 5000 dan itu hanya cukup untuk makan saat itu saja,, maka kita mersa qonaah dan bersyukur sehingga timbullah rasa ikhlas di dalamnya… saat itu hati kita tidak merasa bersdih, maka timbullah rasa bahagia di dalamnya…
    itulah konsep kebahagiaan menurutku..
    sebaliknya bnyak mereka yg serba cukup, tpi mereka hanya mengeluh dan tidak bersyukur, apa yg mereka katakan dan tampilkan dalam kesehariannya adalah ketidakbahagiaan (kekosongan hati/ haus akan kebahagiaan/mencari2 kebahagiaan) bandingkan dengan mereka yg hanya makan ubi doang kok bisa mereka tertawa tanpa beban!!… wallahua’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: