Makna HAM dalam Idul Adha   5 comments

Sabtu, 05 November 2011 pukul 09:24:00

Makna HAM dalam Idul Adha

 

Saharuddin Daming
Komisioner Komnas HAM

Idul Adha dan Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan salah satu pranata global yang terbangun dari nilai kemanusiaan. Dalam era kehidupan modern, Idul Adha merupakan pilar pembangunan nilai kebebasan, kebersamaan, dan pengabdian. Sedangkan HAM merupakan tata nilai yang telah mengantarkan masyarakat dunia menikmati perdamaian dan kestabilan sebagai kondisi yang dicita-citakan Idul Adha.

Disebut sebagai refleksi pembebasan manusia dari belenggu nafsu hewani karena prosesi ritualnya merupakan simbol perlawanan terhadap dominasi energi negatif yang merendahkan martabat manusia. Nafsu hewani menurut Ismail Yamin adalah tamsil segala kesesatan dan keburukan, kebodohan, kedengkian, ketakaburan, buruk sangka, kemalasan, kecintaan pada hal-hal material dan aspek lainnya yang harus kita sembelih dari diri kita. Ia adalah sarana untuk memerdekakan diri dari dominasi nafsu jasadiah menuju jiwa kita yang sejati.

Sebagai ritus penting dalam Idul Adha, kurban pada hakikatnya adalah upaya untuk mengembalikan nilai kemanusiaan kita melalui semangat mendekatkan diri kepada Allah. Semangat ini juga merupakan pancaran dari prinsip HAM, yaitu martabat kemanusiaan sebagai anugerah Tuhan yang tidak dapat dikurangi, dibatasi, dihambat, atau dihapus.

Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan berjihadlah di jalan-Nya, agar kamu beruntung.” (QS al-Maidah [5]: 35).

Dimensi kemanusiaan

Agar martabat manusia sebagai anugerah Tuhan dapat terpelihara, maka manusia perlu mendekatkan diri (taqarrub) kepada-Nya dengan menginfakkan harta, termasuk membagi-bagikan daging sembelihan kepada mustahik sebagaimana firman Allah: “Ketahuilah, sesungguhnya infak itu suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah).” (QS At-Taubah [9]: 99).

Dalam perspektif ini, Idul Adha mewadahi hak masyarakat miskin untuk memperoleh jaminan kesejahteraan dari golongan mampu dengan imbalan pahala. Sampai di sini, relasi prinsip HAM dan Idul Adha menjadi sangat kuat dalam membentengi keadilan sosial serta menghapus segala bentuk diskriminasi dan penindasan.

Tradisi kurban dalam Idul Adha juga memberi inspirasi bahwa Tuhan Yang Maha Pencipta tidak pernah mengajarkan hambanya untuk melakukan pemujaan dengan cara menyuap atau memberi kenikmatan kepada pihak yang disembah sebagaimana ritus sesajian dalam animisme dan dinamisme. Dalam perspektif Islam, darah dan daging kurban sama sekali tidak untuk konsumsi penikmatan kepada Tuhan, tetapi justru untuk dinikmati oleh manusia sendiri. Firman Allah: “Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.” (QS Al-Hajj [22]: 37).

Dimensi kemanusiaan dalam kuban, yang kompatibel dengan prinsip HAM, tercermin pada drama pelepasan Ismail dari penyembelihan oleh Ibrahim setelah menerima perintah Allah untuk menggantinya dengan seekor gibas (kambing). Momentum ini merupakan deklarasi yang bersifat Rabbaniah tentang pelarangan terhadap segala bentuk tindakan yang menjadikan manusia sebagai korban kezaliman dan kebiadaban sebagaimana tradisi kaum Pagan yang menyembelih gadis tercantik mereka untuk persembahan kepada para dewa. Prinsip ini telah diadopsi dalam Konvensi Genewa pada 1949 maupun Statuta Roma pada 1998 terutama mengenai Genocide Crime, Extra Judicial Killing, Crimes Againts Humanity, dan lain-lain.

Esensi Idul Adha memang tidak dapat dilepaskan dari dimensi solidaritas dan ketauhidan. Menurut Asep Purnama Bahtiar, secara eksternal nilai-nilai kemanusiaan itu akan bermuara pada sikap empati dan peduli pada nasib sesama umat manusia yang sedang ditimpa kesusahan. Dalam pengejawantahan tauhid yang masih dibayangi oleh virus bidah, tahayul, dan khurafat, maka Idul Adha harus bisa menumbuhkan sikap dan pandangan hidup optimis dan etos kerja yang selalu ingat pada keesaan Allah dan bermakna bagi kemaslahatan hidup manusia.

Karena itu, Syafii Ma’arif mengingatkan, agama atau iman yang berfungsi secara benar pasti akan mendorong pemeluknya untuk berperilaku lurus dan jujur. Orang yang beragama secara serius pasti berani mengatakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah, tidak larut dalam kerancuan sistem nilai.

Dimensi tauhid dalam Idul Adha tampak pada tumbuhnya sikap dan perilaku konstruktif, yaitu pantang untuk melakukan maksiat, fitnah, dan berbagai tindak kriminal yang paling dimurkai, antara lain, korupsi, manipulasi, merusak lingkungan hidup, serta segala perbuatan yang bisa merendahkan martabat manusia.

Napak tilas

Dimensi kemanusiaan dan ketauhidan seperti inilah yang harus diraih oleh sebagian umat Islam yang menunaikan ibadah haji sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Idul Adha. Ibadah haji pada dasarnya adalah napak tilas perjalanan dan pergulatan hidup Nabi Ibrahim dalam membuktikan komitmen tauhid dan semangat kemanusiannya. Dimensi sosial dari tauhid ini tercermin pada hubungan vertikal (hablum minallah) yang selalu dijaga dan merupakan perwujudan dari hubungan horizontal (hablum minannas) yang mengejawantahkan nilai-nilai Ketuhanan dalam kehidupan manusia.

Menurut Mohammad Yamin, haji menjadi patokan utama untuk membangun solidaritas sosial yang tinggi (high morality) antarsesama manusia. Sudah merupakan substansi dasar prinsip HAM sebagaimana yang diletakkan fondasinya oleh Rasulullah SAW dalam pidato terakhirnya di Padang Arafah bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan manusia untuk saling menghormati, bahu-membahu, dan tolong-menolong.

Kedudukan manusia di mata Allah adalah sama, tidak ada yang superior ataupun inferior. Tidak ada yang subordinat dan superordinat. Kita semua berpijak pada satu tujuan bersama. Amanat kehidupan ini, bukan untuk saling menindas dan saling menguasai, melainkan saling membaur dalam satu kebersamaan. Umat menyatu dalam satu kehidupan yang kohesif dan resiprokal. Kita erat dalam satu fondasi hidup yang kokoh. Kita menjalin tali kasih sayang yang bernapaskan nurani kemanusiaan.

5 responses to “Makna HAM dalam Idul Adha

Subscribe to comments with RSS.

  1. Keimanan yang mampu merubah dan merombak segala bentuk jahiliyah dalam diri dan masyarakat, sehingga berputik dan bertebaranlah asas asas akhlak Islamiah pada ketika itu.

  2. Really good visual appeal on this website, I’d rate it 10.

  3. Idul Adha adalah salah satu rangkaian dari ibadah haji yaitu hari pelaksanaan penyembelihan kurban oleh jamaah haji .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: