Archive for December 1, 2011

Detik-detik terakhir kehidupan Rasulullah SAW   Leave a comment

Sholallahu ‘alaa Muhammad, Sholallahu ‘alaihi wasallam…

Semoga beberapa kutipan berikut dapat menambah dan memecah hati kita agar dapat dipenuhi dengan rasa cinta kepada Rasulullah SAW, sehingga memperkuat persaudaraan kita sesama panji Agama Islam..

Kucoba ketik tulisan ini dengan setegar-tegarnya, namun ternyata bendungan air mata tak tahan terjatuh juga,, segenap bulu romaku merinding dan bertambahlah rasa cinta ini. Semoga Allah senantiasa menyampaikan salawat dan salam kepada Rasulullah SAW

—————————————————————————————————————————————–

Berkata Ibnu Mas’ud :

” Di kala telah dekat waktu wafatnya Rasulullah saw kami berkumpul bersama-sama di rumah ibu kita Aisyah ra. Nabi menoleh kepada kami dan kemudian kedua matanya mencucurkan air mata, dan kemudian beliau berkata antara lain:

” Selamat datang bagi kalian semua, semoga Tuhan melimpahkan rahmatNya kepada kamu! Aku berwasiat kepada kamu semua dengan taqwallah, taat kepadaNya. Telah dekat masa perpisahan dan telah hampir waktu pulang kepada Allah dan kepada surga Al-Makwa. Hendaklah Ali memandikan saya, Al-Fadhal bin Abbas dan Usamah bin Zaid yang menuangkan air, dan kemudian kapanilah aku dengan kainku jika kamu menghendaki yang demikian atau dengan kain putih buatan Yaman!.”

“APabila kamu telah selesai memandikanku letakkanlah jenasahku di atas tempat tidurku di rumahku ini di atas pinggir lubang kuburku. Kemudian bawalah aku ke luar sesaat, maka awal pertama kali yang memberi sholawat kepadaku adalah Allah Azza wa jalla sendiri, kemudian Jibrail, kemudian Mikail, kemudian Israfil, kemudian malaikat maut (Izrail) bersama pasukannya dan kemudian segenap para malaikat. Sesudah itu barulah kamu masuk kepadaku rombongan demi rombongan dan sembahyangkanlah aku bersama-sama!”

“Setelah para sahabat mendengar kata-kata amanat perpisahan Rasulullah SAW, mereka menjerit dan menangis dan kemudian berkata : “Ya Rasul Allah! engkau adalah Rasul kami, penghimpun-pembina kekuatan kami dan penguasa urusan kami, apabila engkau pergi dari kalangan kami, kepada siapakah gerangan lagi kami pergi kembali?”

Maka menjawablah Nabi SAW antara lain demikian bunyinya:

“AKu tinggalkan kamu di atas jalan yang terang, dan aku tinggalkan untukmu dua juru nasihat; yang berbicara dan yang diam. Penasihat yang berbicara ialah Al quran dan yang diam ialah Maut. Apabila kamu menghadapi persoalan-persoalan yang musykil, maka kembalilah kepada Alquran dan Sunnah, dan apabila hatimu kesat – kusut, maka tuntunlah dia dengan mengambil iktibar tentang peristiwa-peristiwa maut!”.

Setelah itu Rasulullah jatuh sakitlah pada akhir bulan Safar dan senantiasa beliau dalam keadaan sakit selama 18 hari (ada yang mengatakan 13 hari dan ada pula yang mengatakan 17 hari) yang senantiasa dijenguk oleh para sahabat. Adalah beliau menderita sakit kepala sampai beliau pulang ke Rahmatullah. Beliau diangkat Tuhan menjadi Rasul pada hari Senin dan meninggal dunia pada hari Senin juga. PAda hari terakhir dari hayatnya beliau, Penyakit beliau bertambah berat.

Dalam keadaan beliau yang kritis itu beliau masih terkenang kepada kaum fakir miskin dan melarat, dan ia teringat bahwa masih ada uang simpanannya sebanyak 7 dinar dalam rumahnya. Disuruhnya ambilkan uangnya itu kepada isterinya tercinta, siti Aisyah ra sambil berkata: “Bagaimana gerangan persangkaan Muhammad terhadap Tuhannya, sekiranya ia menemui Tuhannya sedang di tangannya tergenggam benda ini?” Kemudian diserahkannyalah harta miliknya yang terakhir itu kepada fakir miskin selaku kebajikan.

 

Setelah Bilal menyerukan adzan di waktu subuh dengan semerdu-merdunya ia pun berdiri di muka pintu rumah Rasulullah, maka ia pun memberi salam. ” Assalamualaikum ya Rasul Allah!” menyahutlah Fatimah, puteri tersayang beliau yang senantiasa mendampingi ayahnya di kala sakit. “Rasulullah sedang sibuk dengan dirinya sendiri”. KEmudian Bilal pergi ke masjid dan ia tidak mengerti kata-kata Fatimah itu. Tatkala shalat subuh akan dimulai, maka ia datang ke rumah untuk kedua kalinya dan ia berdiri di pintu sambil mengucapkan salam seperti semula. Kali ini suaranya di dengar Rasulullah dan lantas menyuruhnya masuk dengan katanya: “masuklah engkau Bilal sambil menangis! Saya sibuk merawat diri saya dan sakitku bertambah berat. Hai Bilal, suruhlah Abu Bakar Sidik memimpin Sholat bersama orang banyak!”.

 

Kemudian Bilal pun keluar rumah menuju ke masjid sambil menagis dan tangannya diletakkan di atas kepalanya dan sambil mengeluh ia berkata : ” Oh musibah, putuslah harapan dan patahlah semangat! Wahai kiranya, alangkah baiknya kalu aku tidak dilahirkan ibuku!” Kemudian ia masuk ke dalam masjid memanggil Abu bakar sidik. ” Hai Abu bakar! ” Ujarnya. Sesungguhnya Rasulullah menyuruh engkau tampil supaya mengimami orang banyak karena beliau sangat sibuk sekali dengan keadaan yang menimpa diri beliau.”

Waktu Aisyah mendengar Rasulullah menyuruh ayahnya menjadi imam, ia mengemukakan keberatannya yang sangat kepada Rasulullah, karena katanya, ayahnya adalah orang lemah “Ayahku Abu bakar adalah orang yang lemah, dan bila ia menggantikan kedudukan engkau, niscaya ia tidak mampu kelak”, uajr Aisyah. KArena menurut pandangan Aisyah, bahwa konsekuensi jadi Imam itu adalah berat, karena bukan saja seorang itu mampu jadi imam masjid, tetapi juga harus mampu menjadi imam dalam masyarakat sebagai insan teladan. Dan menurut Aisyah, ayahnya adalah orang lemah yang tidak akan mampu mengemban dan mendukung tugas amanah yang berat itu. BErkali-kali Aisyah mengemukakan keberatannya, sehingga Nabi marah, dan alasan siti Aisyah itu tidak dihiraukan beliau, karena ia lebih tahu menilai kecakapan para sahabatnya dari pada isterinya Aisyah itu. Beliau tetap memerintahkan dan berkata lagi: “Suruhlah Abu bakar memimpin sholat bersama orang banyak!”. Demikian akhirnya Abu bakar sidik sempat mengimami shalat jamaah bersama kaum muslimin selama 17 kali waktu menjelang akhir hayat Rasulullah.

Tatkala Abu bakar melihat ke mihrab Rasulullah, memang ia melihat mihrab dalam keadaan kosong daro RAsulullah, ia tidak dapat menguasai dirinya sehingga terpekik dan kemudia ia keluar kembali dalam suasana yang penuh duka cita. Maka menjadi gemparlah kaum muslimin dan kegemparan itu terdengar oleh Rasulullah. Kepada Fatimah beliau bertanya : “Ada apa ini pekik dan kegemparan?”. “Kaum muslimin menjadi gempar karena mereka tidak melihat ayah berada di kalangan mereka”, jawab Fatimah.

Rasulullah kemudian memanggil ALi bin Abi Tholib dan Fadhal bin Abbas untuk membimbing beliau pergi ke masjid. dan beliau pun sempat berjamaan bersama mereka pada hari senin itu. Rasulullah memang memaksakan dirinya pergi ke masjid pada pagi Subuh terakhir itu untuk memberikan ketentraman ke dalam hati umatnya yang sedang resah dan kuatir. Anas bin Malik ( Seorang sahabat pembantu rumah tangga Rasulullah yang setia selama sepuluh tahun sampai Rasulullah wafat) mengatakan :  ” Saya tidak pernah melihat Nabi secerah berseri seperti halnya dengan keadaan beliau di kala subuh terakhir itu”. Ya, sambil tersenyum simpul beliau melambaikan tangannya kepada para jamaah yang ramai berdesak-desak itu, demi untuk menghibur dan membujuk jiwa mereka yang sedang dirundung gelisah dan cemas selama ini.

Kemudian setelah selesai menunaikan shalat berjamaah, maka beliau menghadapkan wajahnya kepada orang banyak sambil berkata :

” Wahai kaum muslimin! Kamu semua berada di bawah perlindungan Allah dan penjagaanNya. Janganlah lupa bertaqwa kepada Allah dan menaatiNya, karena aku tak lama lagi akan meninggalkan dunia ini. Inilah awal hari akhirat bagiku dan akhir hari duniaku! “.

Kemudian beliau berdiri dan pergi masuk ke dalam rumah beliau.

Setelah itu Allah SWT, memberi perintah kepada Malaikat Maut : ” bahwa turunlah engkau kepada kekasihku dengan rupa yang sebagus-bagusnya dan bersikap lemah lembutlah kepadanya dalam menggenggam rohnya. Apabila ia telah memberi ijin kepada engkau, maka berulah engkau boleh masuk ke dalam rumahnya. Tetapi apabila ia tidak memberi ijin maka janganlah engkau masuk dan kembali sajalah !.

Maka turunlah Malaikat Maut (Izrail) ke dunia dengan roman rupa seorang Arab. lalu mengucapkan Salam : ” Asslamaualakum, wahai para keluarga rumah- tangga Nabi dan sumber Kerasulan ! Apakah saya diijinkan masuk ?”

Fatimah menjawab dengan katanya : ” Hai hamba Allah, sesungguhnya Rasul Allah sedang sibuk dengan dirinya !”. Kemudian Malaikat maut itu berseru untuk kedua kalinya : ” Assalamualaikum ya Rasul Allah dan wahai keluarga rumah tangga Kenabian, apakah saya diperbolehkan masuk? ” Nabi saw mendengar suara itu, maka ia bertanya: ” Hai fatimah, siapakah itu gerangan yang berada di pintu?”. “Seorang lelaki Arab memanggil ayahm telah aku katakan kepadanya, bahwa Rasulullah repot dengan dirinya sendiri. Kemudian orang itu memanggil sekali lagi dan telah saya beri jawaban yang sama, tetapi ia memandang kepadaku, maka tegak meremanglah bulu roma kulitku, takutlah hatku, gemetar segala tulang persendianku dan berubahlah warnaku (pucat)”, jawab fatimah.

Maka berkatalah Nabi SAW : ” Tahukah engkau siapakah sebenarnya orang itu ya Fatimah?”.

” Tidak tahu ayah” sahut fatimah.

Berkatalah Rasulullah SAW : ” Itulah dia pemusnah segala kelezatan hidup, pemutus segala kesenangan, pencerai beraikan persatuan, perubuh rumah tangga dan penambah ramai penghuni kubur.”

Mendengar itu, menangislah fatimah dengan tangisnya yang keras menjadi- jadi, melolong- lolong dan ia berkata :” Wahai! akan meninggal kiranya penutup para Nabi; wahai bencana ! akan berpulang kiranya orang taqwa terbaik, dan akan lenyaplah pemimpin dari segala tokoh orang suci. Ah Celaka ! pasti terputuslah wahyu dari langit. Akan terhalanglah aku dari mendengar kata- kata ayah mulai hari ini, dan aku tidak pernah lagi mendengarkan salam ayah sejak hari ini”.

Nabi menjawab : ” Ya fatimah! Engkaulah keluargaku yang pertama kali menyusul aku” Dan kemudian berkata kepada Malaikat maut yang sedang menunggu di luar. ” Silahkan engkau masuk hai Malaikat maut!”. Maka ia pun masuklah sambil mengucapkan salam: ” Salam sejahtera atasmu ya Rasul Allah!” yang lalu dijawab Nabi SAW. ” Dan juga salam sejahtera bagimu ya Malaikat Maut! Apakah kedatangan engkau ini berupa kunjungan ziarah ataukah bertugas untuk mencabut nyawa?”.

– ” Aku datang untuk kedua- duanya, ziarah dan juga bertugas untuk mencabut nyawa, itu pun jika beroleh ijin darimu; dan jika tidak saya akan kembali”, sahut Izrail.

– ” Nabi bertanya pula: “Ya Malaikat Maut, dimana tadi engkau tinggalkan Jibril?”.

– ” Saya tinggalkan dia di langit dunia dan para malaikat senantiasa memuliakannya”, jawab malaikat maut. Dan tak berapa lama kemudian, maka datanglah malaikat Jibril as menyusul, dan terus duduk di dekat kepala Rasulullah.

– ” Apakah engkau tidak tahu, bahwa perintah telah dekat?” Tanya Rasulullah kepada Jibril.

– ” Benar, Ya Rasul Allah! ” sahut Jibril.

– ” Gembirakanlah saya! Apakah gerangan kehormatan yang kiranya akan saya perdapat di sisi Allah! tanya Rasulullah.

– ” Sesungguhnya pintu- pintu langit telah dibuka, dan para malaikat telah siap berbaris- baris menunggu kedatangan roh engkau di langit, pintu- pintu surga telah di buka serta para bidadari telah berhias berdandan untuk menyongsong kedatangan roh engkau” , kata Jibril.

– ” Alhamdulillah” jawab Nabi SAW yang kemudian berkata : ” Ya Jibril ! Gembirakanlah aku, betapa keadaan umatku nanti di hari kiamat?”.

– ” AKu beri engkau kabar gembira, bahwa Allah SWT telah berkata : “SEsungguhnya Aku (Allah) telah mengharamkan surga bagi semua Nabi-nabi sebelum engkau memasukinya terlebih dahulu, dan Allah SWT mengharamkan pula surga itu kepada sekalian umat manusia sebelum umat engkau terlebih dahulu memasukinya”. jawab Jibril.

– ” SEkarang barulah senang hatiku dan hilang rusuhku”, kata Nabi yang selanjutnya menghadapkan ucapannya terhadap malaikat maut: ” Ya Malaikat maut, sekarang mendekatlah padaku!”.

Maka mendekatlah Malaikat MAut mengadakan pemeriksaan untuk menggenggam rohnya SAW. Tatkala sampai roh itu di pusat, Nabi berkata kepada malaikat Jibril : “ALangkah beratnya penderitaan maut itu!” Jibril pun tak sampai hati melihat keadaan Nabi yang dalam keadaan yang demikian itu dan ia pun memalingkan wajahnya sejenak dari memandang kepada Rasulullah SAW.

– ” Apakah engkau benci melihat kepada wajahku, ya Jibril?”, tanya Rasulullah.

– ” Wahai kekasih Allah, siapakah gerangan yang tega sampai hatinya melihat wajahmu sedang engkau berada dalam situasi kritis sakarat- maut?” jawab jibril.

Berkata  Anas Bin Malik ra: ” Adalah roh Nabi SAW sampai di dadanya dan beliau waktu itu masih dapat berkata: ” Aku berpesan kepada kamu semua tentang Sholat dan tentang Hamba Sahaya yang berada di bawah tanggung jawab kamu”. Dan pada penghujung nafasnya yang terakhir beliau menggerakkan bibirnya dua kali dan aku pun mendekatkan telingaku baik-baik, maka aku masih sempat mendengar beliau berkata dengan pelan-pelan: “Ummati!! Ummati!!” (umatku, umatku!). Maka dijemputlah Roh suci Rasulullah SAW dalam keadaan wajah berseri- seri dan bibir manis yang bagaikan hendak tersenyum, di pangkuan isteri tercinta, Aisyah r.a. pada hari Senin 12 bulan Rabiul Awal, yakni di kala matahari telah tergelincir di tengah hari pada tahun ke- 11 Hijriah, bersesuaian dengan tanggal 3 Juni tahun 632 M. Dan adalah umur nabi waktu itu genap 63 tahun menurut riwayat yang termasyur dan yang paling sah.

Inna lillahi wa Inna Ilaihi Roji’un.

Ila hadrotinnabiyyil mustofa rasulillah muhammadin SAW wa ‘alaa aalihi waashhabihi Wa azwajihi wa dzurriyyatihi wa ahlul baiti ajmain syaiullillahi kirom alfaatihah…

Advertisements

Turunnya Al maidah: 3 (Detik-detik terakhir Kehidupan SAW)   3 comments

 

Allahumma Sholli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aalii Muhammad semua selalu tercurah bagi Rasulullah saw..

Diriwayatkan, bahwa setelah turun wahyu Al quran Surat Almaidah ayat 3, menangislah Umar bin Khattab ra. Maka Nabi SAW berkata kepadanya : ” apakah gerangan yang menyebabkan engkau menangis hai Umar ? ” tanya RAsulullah. Umar menjawab : “kita semua sudah berada dalam Agama yang sempurna. Tetapi bila ia sudah sampai kepada titik puncak kesempurnaan, maka diatas itu tidak ada lagi yang lain, kecuali suatu kemunduran:. Nabi menukas: benar engkau!”.

Ayat almaidah 3 diturunkan di padang arafah pada hari jumat sesudah Ashar, yakni di saat nabi berkendaraan di atas untanya. sesudah itu apa-apa yang berkenaan dengan perintah- perintah yang fardhu tidak turun- turun lagi dari langit.

pada mulanya Nabi tidak mampu untuk mendugaduga kemungkinan- kemungkinan yang terselip dalam arti yang di atas sehingga beliau  hanya terengah dan bertelekan di atas untanya saja. Unta pun berhenti terhenyak dan malaikat jibril pun datanglah sambil berkata kepada nabi: “Ya Muhammad! HAri ini telah sempurna urusan agamamu, telah selesai apa yang diperintahkan Tuhanmu dan juga segala apa yang dilarangNya. Dari itu, kumpulkanlah semua sahabatmu, dan beritahukan kepada mereka, bahwa saya tidak akan turun- turun lagi membawa wahyu kepadamu sesudaj hari ini!”.

maka pulanglah Nabi dari Makkah jembali ke MAdinah. dan di sana dikumpulkanlah oleh beliau para sahabatnya dan dibacakanlah ayat ini kepada mereka serta diberitahukannya apa yang dikatakan Jibril padanya itu.

semua sahabat menjadi gembira mendengarnya kecuali Abu Bakar ra, dan para sahabat itu berkata : “Telah sempurnalah agama kita!” Tetapi Abu Bakar Asshidiq ra pulang ke rumahnya sendirian dalam keadaan murung dan sedih. dikuncinya pintu rumahnya dan ia pun sibuk menangis sepanjang malam dan siang. Hal itu didengar oleh para sahabat dan mereka berkumpul bersama-sama untuk mendatangi rumah Abu bakar assidiq ra.

– Sahabat bertanya: ” kenapa kerjamu menangis saja hai Abu bakar di saat orang lain semua bersuka ria, bukankah Tuhan telah menyempurnakan agama kita?”.

– Abu bakar sidiq ra menjawab: “Kamu semua tidak tahu bencana-bencana apakah kelak yang akan terjadi menimpa kita semua. Apakah kamu tidak mengerti bahwa tidak ada sesuatu apabila ia telah sampai kepada titik kesempurnaan, melainkan itu berarti permulaan kemerosotannya. Dalam ayat terbayang perpecahan di kalangan kita nanti, dan nasib HAsan Husein yang akan menjadi anak yatim, serta para isteri NAbi yang menjadi janda.”

MEndengar itu terpekiklah para sahabat dan dalam suasana penuh keharuan mereka menangislah semuanya, dan terdengarlah ratap tangis yang sayu dari rumah Abu bakar sidik itu oleh para tetangga yang lain dan mereka ini datang langsung kepada Nabi Muhammad SAW sendiri sambil menanyakan kepada beliau tentang hakikat kejadian yang sebenarnya.

” YA RAsul Allah, kami tidak tahu keadaan yang menimpa diri para sahabat, kecuali kami hanya mendengar pekik tangis mereka belaka”. Mendengar itu berubahlah wajah RAsulullah dan ia pun bertanya : ” Apakah yang kalian tangiskan?” menjawablah Ali: ” Abu bakar sidik berkata kepada kami: ” Sesungguhnya saya mendengar angin kematian RAsulullah berdesir melalui ayat ini,” dan bukankah daoat dijadikan bukti ayat ini bagi kematian engkau?”.

Nabi menjawab: “Benarlah Abu bakar dalam segala apa yang dikatakannya itu. Telah dekat masa kepergianku dari atara kamu semua, dan telah datang masa perpisahanku dengan kamu semua.”

Penegasan nabi itu adalah isyarat, bahwa benarlah Abu bakar seorang yang paling arif di antara para sahabat Nabi. Dan ketika Abu Bakar mendengar ucapan NAbi itu ia pun berteriak dan lantas jatuh pingsan. Ali menjadi gemetar, para sahabat menajdi gelisah; mereka semua ketakutan dan menangis menjadi-jadi. Begitu juga para malaikat di langit, makhluk-makhluk yang melata di bumi. HEwan- hewan di daratan dan di lautan semuanya turut berkabung berduka cita. KEmudian Nabi bersalam berjabat tangan dengan satu demi satu para sahabat mengucapkan perpisahan dan beliau pun menangislah sambil memberikan amanah nasihat kepada mereka semua.

SEtelah turun ayat Alquran yang terakhir itu NAbi Muhammad SAW menjalani hidupnya 81 hari lagi. Ya, demikianlah setelah ayat itu turun beliau naik ke atas mimbar mengucapkan khutbah sambil menagis, dan hadirin mendengarkannya sambil bercucuran air mata pula. Suatu khutbah yang mendebarkan hati dan menegakkan bulu roma, tetapi di samping itu juga khutbah yang mengungkapkan harapan- harapan dan peringatan- peringatan.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, bahwasanya setelah dekat waktu wafatnya Rasulullah, beliau memerintahkan bilal supaya adzan, memanggil manusia sholat berjamaah. Maka berkumpullah kaum muhajirin dan Anshor ke masjid Rasulullah SAW. Setelah selesai sholat dua rakaat yang ringan kemudian beliau naik ke atas mimbar lalu mengucapkan puji da nsanjung kepada Allah SWT. Dan kemudian beliau membawakan khutbahnya yang sangat berkesan, membuat hati dan mencucurkan air mata. Beliau berkata antara lain:

” Sesungguhnya saya ini adalah Nabimu, pemberi nasihat dan da’i yang menyeru manusia ke jalan Tuhan dengan izinNya. Aku ini bagimu bagaikan saudara yang penyayang dan Bapa yang pengasih. Siapa yang merasa teraniaya olehku diantara kamu semua, hendaklah ia bangkit berdiri sekarang juga untuk melakukan KISAS  kepadaku sebelum ia melakukannya di hari kiamat nanti.”

sekali dua kali beliau mengulangi kata-katanya itu, dan pada ketiga kalinya barulah seorang laki-laki bernama ‘Ukasyah Ibnu Muhsin’, ia berdiri di hadapan Rasulullah sambil berkata: “Ibuku dan ayahku menjadi tebusanmu ya RAsul Allah. Kalau tidaklah karena engkau telah berkali-kali menuntut kami supaya berbuat sesuatu atas dirimu, tidaklah aku berani tampil untuk memperkenankannya. sesuai dengan permintaanmu. Dulu aku pernah bersamamu di medan perang Badar sehingga untaku berdampingan sekali dengan untamu, maka aku pun turun dari atas untaku dan aku menghampiri engkau, lantas aku pun mencium paha engkau. KEmudian Engkau  mengangkat cambuk memukul untamu supaya berjalan cepat, tetapi engkau sebenarnya telah memukul lambung sampingku; saya tidak tahu apakah itu dengan engkau sengaja atau tidak ya Rasul Allah, ataukah barangkali maksudmu dengan itu hendak melecut untamu sendiri?”.

Rasulullah menjawab: ” Maha suci Allah ya ‘Ukasyah, bahwa Rasulullah akan bermaksud memukul engaku dengan sengaja”.

Kemudian Nabi menyuruh Bilal supaya pergi ke rumah Fatimah, supaya Fatimah memberikan kepadaku cambukku”., kata beliau. Bilal segera ke luar masjid dengan tangannya diletakkannya di atas kepalanya keheranan sambil berkata sendirian: “inilah Rasulullah memberikan kesempatan kisas terhadap dirinya!” diketoknya pintu rumah Fatimah yang menyahut dari dalam: ” Siapakah di luar?” “saya datang kepadamu untuk mengambil cambuk Rasulullah” jawab Bilal.

– ” Apakah yang akan dilakukan ayahku dengan cambuk ini?” tanya fatimah ke Bilal.

– ” Ya fatimah! ayahmu memberikan kewempatan kepada orang untuk mengambil kisas atas dirinya” Bilal mengaskan.

– ” Siapakah pula gerangan itu yang sampai hati untuk mengisas RAsulullah?” tukas fatimah keheranan.

Bilal pun mengambil cambuk dan membawanya masuk masjid, lalu diberikannya kepada Rasulullah, dan RAsulullah pun menyerahkannya ke tangan Ukasyah.

Tatkala hal itu dilihat Abu bakar sidik dan Umar ra, keduanya berkata kepada ‘Ukasyah: ” Hai Ukasyah! kami sekarang berada di hadapanmu, pukul-kisaslah kami berdua, dan jangan sekali- kali engkau pukul RAsulullah saw!” Rasulullah menyela dengan katanya: ” Duduklah kalian keduanya, Allah telah mengetahui kedudukan kamu berdua!”.

Kemudian berdiri pula Ali bin Abi tholib sambil berkata: “Hai ukasyah! saya ini sekarang masih hidup di hadapan Rasulullah. Aku tidak sampai hati melihat kalau engkau akan mengambil kesempatan kisas memukul Rasulullah. Inilah punggungku, maka kisaslah aku dengan tanganmu dan deralah aku dengan tangan engkau sendiri!” Nabi menukas pula: ” Allah telah tahu kedudukanmu dan niatmu, wahai Ali!”. Kemudian tampil pula kedua kakak beradik, HAsan dan husein. ” Hai Ukasyah! bukankah engkau telah mengetahui, bahwa kami berdua ini adalah cucu kandung RAsulullah, dan kisaslah terhadap diri kami dan itu berarti sama juga dengan mengkisas Rasulullah sendiri!”. Tetapi Rasulullah menegur pula kedua cucunya itu dengan kata beliau: ” Duduklah kalian keduanya, wahai penyejuk mataku!”.

Dan akhirnya Nabi berkata:

“hai Ukasyah! pukullah aku jika engkau berhasrat mengambil kisas!”

“ya Rasul Allah! sewaktu engkau memukul aku dulu, kebetulan aku sedang tidak lekat kain di badanku”, kata ukasyah. Lantas tanpa bicara Rasulullah segera membuka bajunya, maka berteriaklah kaum muslimin yang hadir sambil menangis.

maka tatkala Ukasyah melihat putih tubuhnya Rasulullah, ia segera mendekat tubuh Nabi dan mencium punggung beliau sepuas-puasnya sambil berkata:

“Tebusanmu Rohku ya RAsul Allah, siapakah yang tega sampai hatinya untuk mengambil kesempatan mengisas engkau ya Rasul Allah? sayasengaja berbuat demikian hanyalah karena berharap agar supaya tubuhku dapat menyentuh tubuh engkau yang mulia, dan agar supaya Allah SWT dengan kehormatan engkau dapat menjagaku dari sentuhan api neraka”.

Akhirnya berkatalah Nabi SAW:

“Ketahuilah wahai para sahabat! Barangsiapa yang ingin melihat penduduk syurga, maka melihatlah kepada pribadi laki-laki ini.”

Lantas bangkit berdirilah kaum muslimin beramai-ramai mencium Ukasyah diantara kedua matanya. dan mereka berkata: ” Berbahagialah engkau yang telah mencapai derajat yang tinggi dan menjadi teman Rasulullah saw di surga kelak!”.

YA Allah! demi kemuliaan dan kebesaran Engkau mudahkan jugalah kami mendapatkan Syafaatnya RAsulullah saw di negeri akhirat yang abadi! amin! (Mau’idzatul Hasanah)

 

(Detik-detik terakhir kehidupan Rasulullah.1974.KH FIrdaus AN. Jakarta: PEdoman Ilmu jaya.)

“Persamaan HAK” salah satu pesan Rasulullah dalam Haji Wada’   2 comments

Rasulullah berkata dalam khutbah Alwada’nya :

” Hai manusia! sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah tunggal, dan sesungguhnya kamu berasal dari satu bapak. Semua kamu dari adam dan Adam terjadi dari tanah. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu semua disisi Tuhan adalah orang yang paling Taqwa, tidak sedikit pun ada kelebihan bangsa Arab itu dari yang bukan Arab, kecuali dengan Taqwa.
“Hai umat , bukankah aku telah menyampaikan?! O Tuhan saksikanlah! maka hendaklah barangsiapa yang hadir diantara kamu di tempat ini berkewajiban untuk menyampaikan pesan wasiat ini kepada mereka yang tidak hadir !”.

 

setelah Nabi mengakhiri Khutbah al Wada’ yang amat berkesan itu dengan suaranya yang tinggi sambil menunjuk ke langit, maka berteriak pulalah para jemaah haji yang sedang berkumpul di padang Arafah itu menyahut serentak dengan suaranya yang lantang bergema, membelah kesunyi senyapan  padang pasir yang luas tandus itu dengan beramai-ramai mengucapkan: “Demi Allah! Sesungguhnya Engkau (Muhammad) telah menyampaikan amanah perintah-perintah Tuhanmu!”.

 

 

 

(dalam “detik detik kehidupan Rasulullah”,KH Firdaus AN, 1972,Pedoman Ilmu jaya: Jakarta)