Archive for December 26, 2011

Rizki & Kematian Back To Allah   Leave a comment

Rizki & Kematian Back To Allah

Oleh : Dony Yusuf

Antara “Kondisi” dan Sebab

            Mungkin sudah menjadi hal yang umum atau sangkaan banyak orang, bahwa kematian dan rizki sebab datangnya adalah banyak hal. Wajar, hal seperti itu terjadi disamping karena lemahnya pemahaman mereka terhadap Islam, tapi juga salahnya mereka ketika memahami fakta sebenarnya dari datangnya ajal (kematian) dan rizki kepada manusia.

            Kalau dipahami faktanya, datangnya rezki dan mati seperti yang disangka banyak orang adalah dengan berbagai sebab, maka sebenarnya itu hanyalah “kondisi” atau keadaan atau peristiwa yang mendatangkan rizki atau ajal. Dimana suatu kondisi/keadaan/ peristiwa tertentu yang “kebetulan” mendatangkan ajal atau rizki. Sebab kalau kondisi tadi dikatakan sebagai sebab datangnya rizki atau ajal maka setiap kondisi—yang menurut mereka bisa mendatangkan rizki atau ajal—pasti akan menghasilkan sesuatu keadaan/kondisi pada mati atau rizki tadi. Nah, pada faktanya tidak demikian, tidak setiap kondisi atau peristiwa atau usaha itu, mendatangkan rizki atau ajal, hanya secara kebetulan ketika seseorang mengusahakan suatu kondisi tadi, datanglah rizki atau ajal, tapi sekali lagi itu bukan sebab datangnya rizki atau ajal.

            Pemahaman ini urgen sekali untuk dipahami oleh kaum muslimin. Sebab dengan sangkaan bahwa “kondisi” itulah sebab datangnya rizki atau ajal, maka ketika seseorang berusaha keras menciptakan “kondisi” tertentu, kemudian tidak datang rizki baginya maka sikap atau keimanan dia akan berubah terhadap Allah SWT. Oleh karena itu perlu dijelaskan bahwa rizki dan ajal sebab datangnya hanya satu dari Allah.

Postulat Kausalitas

            Hukum sebab-akibat atau hukum alam menunjukkan bahwa setiap sebab pasti akan menghasilkan akibat atau sebaliknya akibat/musabab terjadi karena ada sebabnya. Begitupula, dengan ajal dan rezki adalah akibat/musabab dan keduanya datang karena ada sebabnya, dan sebabnya hanya satu yaitu Allah, sedangkan kondisi atau keadaan yang diusahakan manusia hanya wasilah atau perantara bukan sebab datangnya rizki atau ajal. Sebab kalau “kondisi” tadi dikatakan sebab pasti setiap usaha akan menghasilkan akibat, tapi nyatanya tidak demikian.

            Seorang muslim wajib meyakini dengan pasti bahwa rizki itu berasal dari sisi Allah SWT, bukan berasal dari manusia, dan bahwa setiap keadaan (usaha) yang biasanya mendatangkan rizki tidak lain adalah kondisi tertentu yang berpeluang menghasilkan rezeki. Tetapi ia bukan merupakan sebab datangnya rezeki. Apabila usaha dianggap sebagai sebab, maka setiap usaha pasti akan menghasilkan rezki. Padahal kadang-kadang “kedaan” usaha itu telah diupayakan, tetapi rezeki tidak datang. Ini menunjukkan bahwa usaha bukan merupakan sebab, melainkan hanya berupa cara/usaha untuk memperoleh rezki.

            Demikian pula, dengan kematian. Kadang-kadang ditemukan adanya keadaan yang mematikan tetapi kematian tidak terjadi, dan terkadang ditemukan kematian tanpa didahului oleh suatu keadaan. Memang banyak hal/kasus yang dapat menghantarkan kepada kematian, tetapi hubungan keduanya itu tidak bisa dijadikan postulat kausalitas, karena ada suatu peristiwa berbahaya itu terjadi tapi tidak mengakibatkan kematian. Dan sebaliknya, kematian bisa datang tanpa didahului oleh suatu peristiwa/kasus “kematian”.

            Nah, andaikan suatu peristiwa/keadaan/kondisi dikatakan sebab tentu akan menghasilkan akibat pada kematian atau rezki secara pasti, dan tidak ada sebab lainnya kecuali peristiwa atau kondisi tadi. Tapi faktanya tidak demikian, fakta justru berbicara bahwa hal itu tadi adalah hanya “kondisi” saja, sedangkan sebab kematian dan rezki hanya satu dari sisi Allah. Allah tidak memberikan informasi kepada kita kapan kita akan mati atau berapa kita dapat rezki berupa harta, hal seperti itu diluar jangkauan manusia untuk mengetahuinya, karena berada diluar jangkauan indera manusia itulah, maka manusia harus mencari petunjuk dari Allah SWT tentang masalah ini. Artinya, manusia tidak tahu kapan dia mati atau dapat rezki tapi manusia harus yakin bahwa sebab datangnya rezki atau ajal adalah satu dari sisi Allah, dan berita tentang itu harus datang dari Allah, misalnya tentang Rezki Allah berfirman

 

[30:40] Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Maha Sucilah Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.

(terj. Qs. Al-An’am 151)

[6:151] Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar {518}”. Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya).

 

[11:6] Dan tidak ada suatu binatang melata {709} pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya {710}. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).

Ayat-ayat tersebut diatas atau ayat yang lain amat jelas dan harus diyakini kebenarannya bahwa rezki semata-mata berasal dari sisi Allah, bukan dari yang lain.

Adapun tentang ajal atau kematian, Allah juga telah berfirman :

[3:145] Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.

 “ … Tuhanku ialah Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan” (terj. Qs. Al-Baqarah 258)

 

[7:34] Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu {537}; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. (terj. Qs. Al-A’raf 34).

Semua ayat diatas dan banyak lagi ayat yang lainnya, menunjukkan sesungguhnya sebab datangnya kematian adalah sampainya ajal (dari sisi Allah), bukan berupa “keadaan/kondisi” yang dapat menghantarkan pada kematian.

Apa yang dilakukan Manusia

            Meski, rezki datangnya dari Allah bukan berarti manusia berserah diri, berpangku tangan tidak mencari rezki. Tapi Allah SWT, telah memerintahkan hamba-Nya untuk berupaya melakukan berbagai macam pekerjaan telah diberikan (oleh Allah) pada diri mereka kesanggupan untuk memilih dan melaksanakan cara/usaha yang biasanya mendatangkan rezeki. Merekalah yang harus mengusahakan segala bentuk cara/usaha yang dapat menghasilkan rezeki dengan ikhtiar mereka, akan tetapi bukan mereka yang mendatangkan reseki, sebagaimana dijelaskan ayat-ayat diatas bahwa hanya Allah yang mendatangkan rezeki, justeru dengan meyakini seperti, dia akan bertambah iman atau yakin bahwa manusia itu lemah dan membutuhkan kepada sesuatu yang lebih kuat dari manusia yaitu Allah sebagai pengatur Alam ini.

            Ajal pun demikian, tidak berarti setelah kita tahu bahwa ajal datangnya dari Allah, kemudian kita berserah diri, untuk tidak melakukan apa-apa karena semuanya telah Allah tetapkan. Bukan seperti itu, bahwa Allah telah memberi jalan atau pilihan kepada manusia, mau memilih jalan baik atau jalan buruk dalam menuju kematian, tapi dengan satu keyakinan bahwa ajal pasti akan datang, dan tidak tahu kapan datangnya. Yang seperti ini, justru akan menambah kita yakin bahwa ada yang mengatur di balik keteraturan alam dan kehidupan ini, maka Dialah yang wajib kita imani yaitu Allah.

Posted December 26, 2011 by a'im in campur aduk, Islam

Tauhidul Ap’al   Leave a comment

Bagian II

Pasal 1

Tauhidul Ap’al

(ke-Esa-an Perbuatan)

Telah kita jelaskan sebelumnya pada BAB I yaitu Hal yang dapat menggagalkan seseorang sampai kepada Allah SWT. Bab ini akan dibahas pada Tauhidul Ap’al.

Hendaklah anda ketahui bahwa segala apapun juga yang terjadi di dalam alam ini pada hakekatnya adalah Ap’al (perbuatan) Allah SWT.

Yang terjadi di dalam alam ini dapat digolongkan pada dua (2) Golongan :

  1. Baik pada bentuk (rupa) dan isi (hakekatnya) seperti iman dan taat
  2. Jelek pada bentuk (rupa) namun baik pada pengertian isi (hakekat) seperti KUFUR dan MAKSIAT. Dikatakan ini jelek pada bentuk karena adanya ketentuan hukum syara yang mengatakan demikian. Dikatakan baik pada pengertian isi (hakekat) karena hal itu adalah suatu ketentuan dan perbuatan dari pada Allah Yang Maha Baik.

Maka “kaifiyat” (cara) untuk melakukan pandangan (Syuhud/ Musyahadah) sebagaimana dimaksudkan di atas ialah:

“Setiap apapun yang disaksikan oleh mata hendaklah ditanggapi oleh hati bahwa semua itu adalah AP’AL (perbuatan) dari pada Allah SWT”.

Bila ada sementara anggapan tentang ikut sertanya “yang lain dari pada Allah” di dalam proses kejadian sesuatu, maka hal tersebut tidak lain hanya dalam pengertian majazi (bayangan) bukan menurut pengertian hakiki.

Catatan:

Misalnya si A bekerja untuk mencari makan dan/atau memberi makan anak-anaknya. Maka si A tergolong dalam pengertian “yang lain dari pada Allah” dan juga dapat dianggap “ikut serta dalam proses” memberi makan anaknya. Fungsi si A dalam keterlibatannya ini hanya Majaz (bayangan) saja, bukan dalam arti hakiki. KArena menurut pengertian hakiki yang memberi makan dan minum pada hakekatnya ialah Allah. sebagaimana tersebut dalam al Quran surat Asy-syu’ara ayat 79 “DIALAH ALLAH YANG MEMBERI MAKAN DAN MINUM KEPADA SAYA”

Segala macam “perbuatan” (sikap atau laku) apakah perbuatan diri sendiri ataupun perbuatan yang terjadi di luar dirinya, adalah termasuk dalam dua macam pengertian. PEngertian pertama dinamakan MUBASYARAH dan pengertian kedua dinamakan TAWALLUD. Kedua macam pengertian ini tidak terpisah satu sama lain.

Contohnya adalah sebagai berikut:

  • gerakan pena di tangan penulis, ini dinamakan MUBASYARAH (terpadu) karena adanya “perpaduan” dia kemampuan kodrati yaitu kemampuan kodrati gerak tangan dan kodrati gerak pena.
  • gerakan batu yang lepas dari tangan pelempar. Hal ini dinamakan TAWALLUD (terlahir) karena lahirnya gerakan batu yang dilemparkan itu adalah kemampuan kodrati gerak tangan.

Namun pada hakekatnya, kedua macam pengertian itu (MUBASYARAH dan TAWALLUD) adalah Ap’al Allah SWT, didasarkan kepada dalil Alquran:  (As_shofat:96)

Allah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu lakukan”

Syeikh Sulaiman Al Jazuli ra menyebutkan dalam syarah kitab DALA-ILUL Khairat bahwa apa pun juga yang dilakukan oleh hamba, perkataan tingkah laku gerak dan diam, namun semua itu sudah lebih dulu oada ilmu, qodho dan qodar Allah SWT.
HAdits Rasulullah : “LA TATAHARRAKU DZARRATUN ILLAA BI IDZNILLAAHI” (tidak bergerak satu zarrah pun melainkan atas izin Allah).

Atas dasar pandangan inilah (Musyahadah), maka NAbi SAW tidak mendoakan kehancuran bagi kaumnya yang menyakiti beliau. Berbagai macam hinaan, cacian, bahkan siksaan yang dilancarkan golongan jahiliyah kepada Rasulullah SAW namun belia balas dengan doa:

“ALLAAHUMMAH DII QOUMII INNAHUM LAA YA’LAMUUN”

(Ya Allah, tunjukilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui)

Apabila anda tetap selalu atas pandangan (Musyahadah) tauhidul Ap’al dengan penuh yakin (tahkik) maka terlepaslah anda dari pada penyakit dan bahaya syirik khofi . Sehingga akhirnya anda akan dapat menyaksikan dengan jelas bahwa segala yang berupa UJUD MAJAZI (ujud bayangan) ini lenyap dan hilang sirna dengan NYATANYA NUR UJUDULLAH yang hakiki.

Apabila secara terus menerus kita latih dengan pandangan musyahadah demikian sedikit demi sedikit dengan tidak mencampur baurkan antara pandangan lahir dan pandangan batin, maka sampailah anda pada suatu “maqom yang dinamakan MAQOM WIHDATUL AP’AL”.

Pada tingkatan ini, berarti FANA (lenyap) segala perbuatan makhluk (perbuatan anda sendiri) atau perbuatan yang lain dari anda karena “NYATANYA” perbuatan Allah Yang MAha Hebat.

Posted December 26, 2011 by a'im in Islam

Tagged with , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Bersyukurlah……..   Leave a comment

Sering kita bertanya pada diri kita sendiri:


kenapa kita harus mengalami kesulitan
sementara orang lain bisa senang

kenapa kita harus bekerja keras sampai harus lembur
sementara orang lain sudah pulang ke rumah

kenapa kita selalu menjadi karyawan
sementara orang lain bisa jadi usahawan sukses

kenapa kita harus berhujan-hujan naik angkutan umum
sementara orang lain merasa nyaman di kendaraan pribadinya

Tapi pernahkah kita bertanya:

adakah orang lain yang lebih susah daripada kita
malah tidak pernah tahu apa yg namanya senang

adakah orang lain yang tidak punya pekerjaan sama sekali
sampai rela bekerja apapun

adakah orang yang bahkan untuk naik angkutan umum saja
tidak mampu bayar

kenapa kita selalu melihat ke atas, dan tidak pernah melihat ke bawah?

kenapa saat kita susah kita menyalahkan Tuhan, tetapi
pada saat senang kita lupa pada Tuhan?

kenapa kita selalu komplain, tapi tidak pernah bersyukur?

jawabannya tidak ada di buku mana pun, tidak ada di siapa pun,

tapi di hati kita sendiri…

bersyukurlah selagi kau mampu untuk bersyukur….
sebelum segalanya terlambat dan diambil darimu.

Bersyukur selalu……

Posted December 26, 2011 by a'im in campur aduk

Tagged with , , , , , , , , ,

Allah melarang kepada hambaNya untuk memiliki Sifat-sifatNya   Leave a comment

Mana’aka an tad da’iya maa laisa laka mimmaalilmakhluqiina afayubiihu laka an tadda’iya washfahu wahuwa robbul ‘aalamiin”

” Allah telah melarang (mencegah) kepadamu apa-apa yang bukan milikmu dari apa yang diberikan kepada semua makhluk. Apakah mungkin Allah membolehkan kamu menutupi sifat-sifatNya pada hal Dia Allah adalah Tuhan yang Memelihara, mengatur dan menjamin seisi alam”.

Sebaik- baik seorang hamba adalah mengakui serta menyadari akan sifat-sifatnya yang sangat lemah dan hina itu, misalnya miskin, lemah bodoh dan lain-lain.

Dan seburuk-buruk hamba adalah yang tidak menyadari akan sifat-sifat yang lemah itu, dia merasa mempunyai kekuatan, sombong dan lain-lain. PAdahal Allahlah yang mempunyai kekuatan sifat-sifat tersebut.

Maka tidaklah layak bagi seorang hamba untuk mengakui dirinya itu pandai, kaya, kuasa serta mempunyai kekuatan. Sebab sifat ini semua adalah miliknya Allah.

kita perhatikan firman Allah dalam sebuah hadits.

” Alkibriyaau ridaai wal ‘adhomatu izaarii faman naaza’anii waahidatan minhaa alqituhu fin naari”

Artinya:

“kesombongan itu pakaianKu (selendangKu), dan kebesaran itu sebagai sarungKu. Maka barangsiapa yang bersaing denganKu dalam salah satu sifat itu, niscaya akanKu lemparkan ke dalam neraka”.

 

“samudra ma’rifat”: Labib Mz, Maftuh ahnan CV Bintang Pelajar. bab CXXI hal 387