Tauhidul Ap’al   Leave a comment

Bagian II

Pasal 1

Tauhidul Ap’al

(ke-Esa-an Perbuatan)

Telah kita jelaskan sebelumnya pada BAB I yaitu Hal yang dapat menggagalkan seseorang sampai kepada Allah SWT. Bab ini akan dibahas pada Tauhidul Ap’al.

Hendaklah anda ketahui bahwa segala apapun juga yang terjadi di dalam alam ini pada hakekatnya adalah Ap’al (perbuatan) Allah SWT.

Yang terjadi di dalam alam ini dapat digolongkan pada dua (2) Golongan :

  1. Baik pada bentuk (rupa) dan isi (hakekatnya) seperti iman dan taat
  2. Jelek pada bentuk (rupa) namun baik pada pengertian isi (hakekat) seperti KUFUR dan MAKSIAT. Dikatakan ini jelek pada bentuk karena adanya ketentuan hukum syara yang mengatakan demikian. Dikatakan baik pada pengertian isi (hakekat) karena hal itu adalah suatu ketentuan dan perbuatan dari pada Allah Yang Maha Baik.

Maka “kaifiyat” (cara) untuk melakukan pandangan (Syuhud/ Musyahadah) sebagaimana dimaksudkan di atas ialah:

“Setiap apapun yang disaksikan oleh mata hendaklah ditanggapi oleh hati bahwa semua itu adalah AP’AL (perbuatan) dari pada Allah SWT”.

Bila ada sementara anggapan tentang ikut sertanya “yang lain dari pada Allah” di dalam proses kejadian sesuatu, maka hal tersebut tidak lain hanya dalam pengertian majazi (bayangan) bukan menurut pengertian hakiki.

Catatan:

Misalnya si A bekerja untuk mencari makan dan/atau memberi makan anak-anaknya. Maka si A tergolong dalam pengertian “yang lain dari pada Allah” dan juga dapat dianggap “ikut serta dalam proses” memberi makan anaknya. Fungsi si A dalam keterlibatannya ini hanya Majaz (bayangan) saja, bukan dalam arti hakiki. KArena menurut pengertian hakiki yang memberi makan dan minum pada hakekatnya ialah Allah. sebagaimana tersebut dalam al Quran surat Asy-syu’ara ayat 79 “DIALAH ALLAH YANG MEMBERI MAKAN DAN MINUM KEPADA SAYA”

Segala macam “perbuatan” (sikap atau laku) apakah perbuatan diri sendiri ataupun perbuatan yang terjadi di luar dirinya, adalah termasuk dalam dua macam pengertian. PEngertian pertama dinamakan MUBASYARAH dan pengertian kedua dinamakan TAWALLUD. Kedua macam pengertian ini tidak terpisah satu sama lain.

Contohnya adalah sebagai berikut:

  • gerakan pena di tangan penulis, ini dinamakan MUBASYARAH (terpadu) karena adanya “perpaduan” dia kemampuan kodrati yaitu kemampuan kodrati gerak tangan dan kodrati gerak pena.
  • gerakan batu yang lepas dari tangan pelempar. Hal ini dinamakan TAWALLUD (terlahir) karena lahirnya gerakan batu yang dilemparkan itu adalah kemampuan kodrati gerak tangan.

Namun pada hakekatnya, kedua macam pengertian itu (MUBASYARAH dan TAWALLUD) adalah Ap’al Allah SWT, didasarkan kepada dalil Alquran:  (As_shofat:96)

Allah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu lakukan”

Syeikh Sulaiman Al Jazuli ra menyebutkan dalam syarah kitab DALA-ILUL Khairat bahwa apa pun juga yang dilakukan oleh hamba, perkataan tingkah laku gerak dan diam, namun semua itu sudah lebih dulu oada ilmu, qodho dan qodar Allah SWT.
HAdits Rasulullah : “LA TATAHARRAKU DZARRATUN ILLAA BI IDZNILLAAHI” (tidak bergerak satu zarrah pun melainkan atas izin Allah).

Atas dasar pandangan inilah (Musyahadah), maka NAbi SAW tidak mendoakan kehancuran bagi kaumnya yang menyakiti beliau. Berbagai macam hinaan, cacian, bahkan siksaan yang dilancarkan golongan jahiliyah kepada Rasulullah SAW namun belia balas dengan doa:

“ALLAAHUMMAH DII QOUMII INNAHUM LAA YA’LAMUUN”

(Ya Allah, tunjukilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui)

Apabila anda tetap selalu atas pandangan (Musyahadah) tauhidul Ap’al dengan penuh yakin (tahkik) maka terlepaslah anda dari pada penyakit dan bahaya syirik khofi . Sehingga akhirnya anda akan dapat menyaksikan dengan jelas bahwa segala yang berupa UJUD MAJAZI (ujud bayangan) ini lenyap dan hilang sirna dengan NYATANYA NUR UJUDULLAH yang hakiki.

Apabila secara terus menerus kita latih dengan pandangan musyahadah demikian sedikit demi sedikit dengan tidak mencampur baurkan antara pandangan lahir dan pandangan batin, maka sampailah anda pada suatu “maqom yang dinamakan MAQOM WIHDATUL AP’AL”.

Pada tingkatan ini, berarti FANA (lenyap) segala perbuatan makhluk (perbuatan anda sendiri) atau perbuatan yang lain dari anda karena “NYATANYA” perbuatan Allah Yang MAha Hebat.

Posted December 26, 2011 by a'im in Islam

Tagged with , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: