Ketika ranting kecil termakan api,,,   Leave a comment

 

Aku merasa ada sesuatu yang janggal, bukanlah sesuatu yang penting seperti materi, atau apalah yang membuat kerugian pada angka-angka. Namun kumerasa ini sebagai suatu kerugian besar berupa harga diri yang terinjak-injak..mungkin lebih tepatnya akulah yang menginjak-injaknya dengan kaki dan pikiranku sendiri…..

Aku berusaha bertahan dalam serpihan reruntuhan yang selama ini kuusahakan menyusunnya kembali, namun serpihan itu ternyata masih menyisakan rongga yang cukup dalam. sehingga aku terkadang masih melihat sebuah celah dan lubang gelap yang sungguh menyesakkan dadaku, ibarat seperti seorang yang sedang berada di atas sebuah gedung dengan phobianya. Begitu menyesakkan dan melemaskan batin ketika menengok ke bawah.

Dalam hariku selalu dibayangi oleh sebuah perasaan yang selalu muncul itu. namun kuberusaha menguatkan diri. Ternyata aku berhasil, walau hanya sekali masa aku kembali mendongakkan kepalaku untuk kemudian tertunduk lagi. Mungkin ini adalah akibat dari perbuatanku sendiri, membiarkan sebuah ranting kecil dan rapuh ini termakan oleh api.

Aku sadar padahal aku mampu untuk tidak membiarkannya termakan oleh api, tapi lagi-lagi aku terlena menganggap api sebagai teman yang merangkul dan mendekap mesra di pelukanku, melihatnya begitu indah meliuk-liuk dengan cantiknya di depan mataku, dengan pesonanya ia menarikan kehangatan dan keramahannya, namun aku tak sadar kalau ternyata sang api meliuk-liukkan keindahannya di atas tubuh sang ranting.

Sebuah ranting kehidupanku yang termakan api

Hampir habis ranting ini dimakan api, namun aku tetaplah terlena akan pesona dan kehangatannya. Aku sadar kalau itu akan menjadikan ranting tak bersisa. Namun dengan senyuman aku berbahagia diatasnya. Walau aku tau akan akibatnya.

Tersadar aku ketika sang ranting telah menjadi abu, tak da guna aku menangisi kebodohanku. tapi cukup memberkas sebuah penyesalan akibatnya, sehingga menambah lebar serpihan yang telah lama kutata rapi dalam hatiku. Hanya sekejap kuhancurkan kembali serpihan yang mulai merapat itu setelah sekian lama kutata hingga kutemukan sebuah ranting itu dalam perjalananku. Dengan sekejap akibat kebodohanku aku membiarkannya tak bersisa.

Sekarang aku hidup dengan abu sang ranting, karena api telah pergi meninggalkanku, hanya khayalan yang kupunya akan hadirnya kehangatan dan keindahan liukan sang api dalam hatiku.
Rongga serpihan itu ternyata berisi rasa rindu akan sang api, walau sesekali kubersedih akan nasib sang ranting yang telah menjadi abu.

—————
a’im
March 23rd, 2012.

10:16 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: